Friday 21st of August 2026
×

Status Darurat Karhutla Kalimantan: Lahan Gambut Terbakar, Asap Pekat Meluas hingga Puluhan Ribu Warga Terserang Infeksi ISPA

Status Darurat Karhutla Kalimantan: Lahan Gambut Terbakar, Asap Pekat Meluas hingga Puluhan Ribu Warga Terserang Infeksi ISPA

--

ASCOMAXX.com - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan memasuki fase darurat setelah lonjakan drastis ribuan titik panas mengepung pemukiman dengan kabut asap pekat. Berdasarkan data pemantauan satelit terbaru, sebaran api paling masif terkonsentrasi di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat yang kini berada dalam status siaga. 

Berdasarkan data pemantauan satelit terbaru, ribuan titik panas menyelimuti wilayah tersebut, dengan sebaran paling masif terkonsentrasi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Kondisi ini diperparah oleh keringnya lahan gambut yang membuat api bawah tanah sangat sulit dideteksi dan dipadamkan, sehingga menghasilkan kepulan asap pekat yang terus meluas ke kawasan permukiman.


Dampak dari bencana musiman ini telah melumpuhkan berbagai sendi kehidupan masyarakat. Sektor kesehatan menjadi yang paling terpukul akibat penurunan kualitas udara yang sangat drastis.

Baca juga: Ardhito Pramono Gugat Sony Music Indonesia Rp5,7 Miliar, Persoalkan Hak Royalti Lagu di Program TV Korea Selatan

Baca juga: Profil Henry Rialdi, Deputi Komisioner Baru OJK yang Mengawal Bursa Mineral

Baca juga: Info Tiket Konser King Nassar : Jadwal, Kategori Harga, dan Cara Beli Resmi

Laporan medis mencatat lebih dari 66.000 warga di berbagai wilayah terdampak kini terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Puskesmas dan rumah sakit setempat mulai kewalahan menampung pasien, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia yang mengalami sesak napas akut akibat paparan emisi beracun.

Selain memicu krisis kesehatan massal, pekatnya kabut asap juga mengacaukan aktivitas harian dan roda perekonomian. Di sektor pendidikan, sejumlah pemerintah daerah terpaksa mengambil kebijakan darurat dengan mengundur jam masuk sekolah atau menghentikan seluruh kegiatan luar ruangan demi keselamatan siswa.

Di sektor transportasi, jarak pandang yang merosot tajam di bawah ambang batas aman telah mengganggu arus lalu lintas darat dan melumpuhkan operasional penerbangan, termasuk menyebabkan penundaan belasan jadwal maskapai di bandara udara regional.

Selain itu, Jarak pandang yang sangat terbatas mengganggu arus lalu lintas darat dan melumpuhkan sektor penerbangan. Sebanyak 12 penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarmasin sempat mengalami penundaan massal sebelum akhirnya bisa beroperasi kembali. 

Baca juga: Syarat Petugas Kesehatan Haji 2027 Resmi Dibuka, Cek Formasi dan Cara Daftarnya

Baca juga: Harga dan Spesifikasi Oppo A6c Agustus 2026, HP Rp 2 Jutaan Bawa Baterai 7.000 mAh

Baca juga: Berpeluang jadi PNS! Status Guru PPPK Kini Dialihkan Jadi Pegawai Pusat

Operasi Penanggulangan Pemerintah

Pemerintah memperkuat Operasi Terpadu Karhutla dengan mengombinasikan pemadaman darat oleh satgas gabungan (Manggala Agni, BPBD, TNI/Polri, dan relawan) serta dukungan udara melalui bom air (water bombing).

Strategi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan juga terus dioptimalkan untuk menyemai awan potensial di atas area gambut yang kering. Di samping itu, aparat penegak hukum menegaskan larangan membuka lahan dengan cara membakar dan akan menindak tegas pihak-pihak yang terbukti sengaja memicu kebakaran. 

Ribuan personel gabungan yang terdiri dari Satgas Manggala Agni, BPBD, TNI, Polri, dan relawan masyarakat dikerahkan untuk melakukan lokalisasi serta pemadaman jalur darat. Namun, medan gambut yang luas dan sulit dijangkau sering kali menjadi kendala utama bagi petugas.

Baca juga: Profil Biodata Rachel Florencia, Penyanyi Cantik yang Baru Saja Menikah dengan Dikta Wicaksono

Baca juga: Geger! Eks Wamenaker Noel Dapat Remisi HUT RI 1 Bulan Bersama 20.500 Napi Jabar, 330 Diantaranya adalah Koruptor

Sebagai langkah percepatan, dukungan udara melalui operasi bom air (water bombing) menggunakan helikopter terus dioptimalkan pada titik-titik api yang terisolasi. Pemerintah juga menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk menyemai awan potensial dengan harapan memicu hujan buatan di atas lahan-lahan yang gersang.

Di sisi lain, penegakan hukum tegas mulai diberlakukan terhadap oknum maupun korporasi yang terbukti sengaja membakar lahan untuk membuka perkebunan. Bencana ini menjadi alarm keras akan pentingnya komitmen jangka panjang dalam menjaga ekosistem gambut dan memperketat mitigasi karhutla di masa depan.

Source:

Update Terbaru

RELATED POST