Thursday 6th of August 2026
×

Kasus dr Alex Cristo Loris Ditutup, Hasil Autopsi Pastikan Korban Bun*h Diri Efek Obat Pelumpuh Otot

Kasus dr Alex Cristo Loris Ditutup, Hasil Autopsi Pastikan Korban Bun*h Diri Efek Obat Pelumpuh Otot

--

ASCOMAXX.com – Misteri kematian seorang dokter spesialis anestesi di Kabupaten Siak akhirnya terungkap. Satreskrim Polres Siak bersama Polda Riau secara resmi menyatakan bahwa dr. Alex Cristo Loris (30) meninggal dunia akibat tindakan bunuh diri dengan menyuntikkan obat pelumpuh otot karena dipicu tekanan psikologis berat.

Jasad dokter spesialis anestesi asal Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku tersebut sebelumnya ditemukan dalam posisi telentang di area semak belukar di luar pagar Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tengku Rafian, Siak.


Korban ditemukan oleh petugas keamanan setempat setelah sempat dilaporkan hilang kontak oleh pihak keluarga. Penemuan tersebut langsung memicu spekulasi luas di tengah masyarakat mengenai penyebab kematian korban.

Baca juga: Identitas Pemeran Video Yank Uwes Yank yang Kini Resmi Ditahan Polisi, Remaja Berusia 17 Tahun Ditahan!

Baca juga: Link Video Viral Azka Fadillah Full Durasi HD Gratis, Bikin Kaget! Pamer Belah Duren dengan Bangga

Baca juga: Gagal Pinjam Rp50 Juta, Oknum Polisi di Deli Serdang Bunuh Nenek Tetangganya dengan Sadis

Kronologi

Berdasarkan rekaman CCTV rumah sakit, dr. Alex terakhir kali terlihat pada Senin, 13 Juli 2026 pukul 18.06 WIB, berjalan seorang diri keluar dari area RSUD menuju Jalan Raja Kecik. Ia kemudian kehilangan kontak dengan keluarga.

Pada 14 Juli 2026 pukul 13.00 WIB, petugas keamanan bersama sopir ambulans menyisir area luar pagar rumah sakit dan menemukan jasad dr. Alex dalam posisi telentang di semak belukar.

Kapolres Siak menjelaskan bahwa berdasarkan pemeriksaan mendalam Tim Laboratorium Forensik Polda Riau, ditemukan kandungan zat kimia jenis Rocuronium di dalam sampel urine, darah, dan ginjal korban. Rocuronium sendiri dikenal dalam dunia medis sebagai obat pelumpuh otot yang biasanya digunakan oleh dokter spesialis anestesi dalam tindakan operasi medis.

Hasil pemeriksaan psikologi forensik menyimpulkan almarhum mengalami tekanan psikologis atau depresi berat akibat akumulasi beban pendidikan spesialis, masalah keluarga, serta tekanan finansial berupa utang pinjaman daring (pinjol). Polisi juga menemukan draf pesan terakhir di ponselnya yang ditujukan kepada sang istri.

Zat mematikan tersebut diketahui masuk ke dalam tubuh korban melalui bekas suntikan mandiri yang ditemukan pada bagian punggung tangan kirinya. Paparan cairan ini mengakibatkan otot-otot pernapasan korban mengalami kelumpuhan total, sehingga korban mengalami kondisi mati lemas (asfiksia) hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir di lokasi kejadian.

Baca juga: Detik-Detik Pria Misterius Bakar Bendera Merah Putih di Bandung Jelang HUT RI, Polisi: 'Masih Kami Selidiki!'

Baca juga: Optimis Modernisasi! Pemerintah Tetapkan WFH Satu Hari Sepekan ASN Diperpanjang Hingga September 2026

Baca juga: UGM Buka Suara Usai Dugaan Dokter PPDS Sindir Pasien BPJS di Media Sosial

Selain temuan medis, tim penyidik juga melibatkan ahli psikologi forensik untuk mendalami kondisi kejiwaan almarhum sebelum insiden terjadi. Dari hasil analisis riwayat komunikasi, ditemukan fakta adanya tekanan psikologis yang sangat berat yang dialami oleh dokter yang baru saja menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi di Universitas Riau (UNRI) ini.

Depresi berat yang dialami korban disinyalir dipicu oleh akumulasi beberapa masalah pelik secara bersamaan. Faktor penentu tersebut di antaranya adalah beban berat selama masa pendidikan kedokteran spesialis, urusan internal keluarga, serta tekanan finansial akibat utang pinjaman daring (pinjol). Indikasi ini diperkuat dengan temuan sebuah draf pesan teks di ponsel pribadi korban yang ditujukan kepada sang istri yang berisi ungkapan permohonan maaf terakhir.

Polisi juga menegaskan, dari hasil pengecekan seluruh kamera pengawas (CCTV) di area sekitar rumah sakit, terlihat korban berjalan seorang diri ke arah semak-semak tanpa ada orang lain yang membuntuti atau mendampinginya. Dengan rilis resmi dari pihak kepolisian ini, penyelidikan terhadap kematian dr. Alex Cristo Loris dinyatakan ditutup.

Source:

Update Terbaru

RELATED POST