Naskah Kuno Sasak di Kampung Adat Sade Berisi Apa? Warisan Tradisi yang Terancam Hilang Usai Kebakaran
--
ASCOMAXX.com – Pada artikel berikut ini akan berbagi informasi mengenai isi naskah kuno Desa Sasak Sade yang tidak boleh kamu lewatkan. Simak ulasan lengkapnya di bawah ini agar tidak ketinggalan informasi terkini!
Kebakaran hebat yang melanda Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu malam (22/8/2026) tidak hanya menghancurkan bangunan tradisional. Sejumlah peninggalan budaya masyarakat Sasak, termasuk manuskrip kuno, turut menjadi korban. Pemerintah mencatat 167 bangunan dan aset budaya terdampak dalam musibah tersebut.
Salah satu warisan yang ikut rusak adalah naskah lontar kuno, yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan adat masyarakat Sasak. Sehari setelah kebakaran, warga masih berupaya mencari sisa-sisa manuskrip yang tertimbun di antara puing rumah adat. Salah satu naskah yang ditemukan dalam kondisi terbakar adalah lontar Rengganis.
Baca juga: Dahsyatnya Kebakaran Kampung Adat Sade, Naskah Kuno Sasak Ikut Musnah
Baca juga: Prof Ali Rokhman Ditunjuk Jadi Plt Rektor Unsoed, Diminta Pastikan Kampus Tetap Berjalan
Berdasarkan catatan mengenai naskah kuno Sasak, manuskrip lontar tidak hanya berisi tulisan, tetapi juga menyimpan pengetahuan mengenai tradisi dan pandangan hidup masyarakat. Salah satu tradisi yang berkaitan dengan manuskrip tersebut adalah nyeput, yakni kegiatan memilih bait tertentu dari naskah yang dipercaya dapat memberikan gambaran atau pesan mengenai perjalanan kehidupan seseorang.
Dalam praktiknya, nyeput dilakukan dengan bantuan orang yang memiliki kemampuan khusus membaca dan memahami manuskrip. Naskah yang digunakan disebut takepan lontar, sedangkan orang yang memiliki keahlian dalam tradisi tersebut dikenal sebagai pembayun. Tidak semua orang yang memiliki naskah mampu melakukan nyeput karena dibutuhkan pemahaman khusus terhadap tradisi tersebut.
Isi manuskrip juga memuat berbagai pesan moral. Salah satu contoh yang dicatat dalam pengalaman tradisi nyeput adalah tembang kasmaran. Tembang tersebut memberikan nasihat mengenai kehidupan dan hubungan manusia, termasuk pandangan bahwa pernikahan sebaiknya tidak semata-mata didasarkan pada rupa, kekayaan, maupun kedudukan.
Baca juga: MUI Desak Unhan Segera Klarifikasi Soal Dugaan Larangan Hijab di Kampus
Baca juga: Haji Isam Punya Peran Penting dalam Penanganan Karhutla Kalsel, Tegaskan Bukan Koordinator
Pesan yang terkandung dalam tembang tersebut menekankan pentingnya ketulusan hati. Dalam catatan tersebut, cinta digambarkan tidak seharusnya diukur berdasarkan penampilan fisik atau harta, melainkan melalui ketulusan seseorang dalam menerima pasangannya.
Di Desa Adat Sade, naskah lontar juga digunakan dalam kegiatan tradisional. Warga menyebut manuskrip tersebut biasa dibacakan dalam berbagai acara adat, seperti perkawinan, tradisi ngurisan atau pemotongan rambut bayi, hingga acara sunatan.
"Ini naskah lontar Rengganis," kata Jemain, warga Desa Adat Sade, saat menemukan salah satu manuskrip yang terbakar.
Warga lainnya, Marwan, menyebut naskah-naskah tersebut merupakan peninggalan leluhur. Sebagian manuskrip yang masih berhasil diselamatkan kemudian diamankan di rumah kepala dusun. Namun, sejumlah naskah lainnya mengalami kerusakan parah akibat kebakaran.
Baca juga: Gubernur Kalsel Klarifikasi Isu Haji Isam Jadi Ketua Penanganan Karhutla
Baca juga: Aktor Eza Gionino Dilaporkan ke Polres Depok, Diduga Pukul Sahabat Sendiri Akibat Cemburu Buta
Kehilangan tersebut menjadi persoalan serius karena manuskrip kuno merupakan bagian dari memori budaya masyarakat Sasak. Kementerian Kebudayaan kini berencana melakukan penyelamatan terhadap fragmen manuskrip yang masih tersisa sekaligus mendokumentasikan pengetahuan tradisional masyarakat Sade. Pemerintah juga menyiapkan kemungkinan menduplikasi manuskrip kuno yang terbakar dengan memanfaatkan koleksi naskah sejenis yang tersimpan di Museum NTB.
Nah, itulah informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bisa bermanfaat dan update berita terbaru hanya melalui website kami!