Kronologi Lengkap Guru SD di Tanjungbalai Kasus Pencabulan, Bawa Murid Laki-lakinya dan Diserahkan ke Suami!
--
ASCOMAXX.com - Kabar mengejutkan datang dari Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara. Seorang guru sekolah dasar diduga dengan kejam menyerahkan muridnya sendiri, seorang anak berinisial A (12), kepada suaminya untuk pelecehan seksual.
Baca juga: Kasus Amanda Manopo: Teror Mistis dan Penggelapan Rp3 M hingga Tanda Tangan Dipalsukan
Kasus ini langsung memicu kemarahan publik dan mendorong ratusan orang turun ke jalan untuk mengepung rumah pasangan yang diduga sebagai pelaku. Insiden yang memilukan ini kini menjadi sorotan publik, terutama setelah diketahui bahwa korban adalah seorang yatim piatu tanpa orang tua yang melindunginya.
Kasus Tersembunyi Sejak Mei 2026
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, dugaan pelecehan seksual terhadap korban A telah berlangsung sejak Mei 2026 di rumah terduga pelaku.
Guru tersebut diduga memanfaatkan hubungan kekuasaan dan posisinya sebagai pendidik untuk membujuk korban, yang akhirnya mengakibatkan anak tersebut diserahkan kepada suaminya untuk melakukan tindakan bejat tersebut.
Insiden yang diduga terjadi di rumah terduga pelaku di Jalan Burhanuddin, Desa Perjuangan, Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai.
Kasus dugaan pelecehan seksual ini baru terungkap setelah korban A tiba-tiba tidak masuk sekolah selama hampir dua minggu. Perilaku mencurigakan ini membuat ibu angkat korban, yang kemudian memutuskan untuk membawa A ke klinik untuk pemeriksaan medis.
Hasil pemeriksaan tersebut akhirnya mengungkap dugaan kejahatan yang dialami korban. Sadam Husin Hasibuan, Kepala Lingkungan 5 di Desa Perjuangan, membenarkan kronologi tersebut.
"Warga baru mengetahui kasus ini setelah korban diperiksa di klinik. Korban diduga menjadi korban pencabulan hingga mengalami luka fisik," kata Sadam pada hari Rabu (22 Juli 2026).
Ratusan Orang Mengepung Rumah Terduga Pelaku
Begitu berita tentang dugaan tindakan bejat guru dan suaminya menyebar, kemarahan warga langsung berkobar. Ratusan orang berkumpul dan mengepung rumah terduga pelaku mulai pukul 18.00 WIB pada hari Rabu (22 Juli 2026).
Situasi memburuk ketika pasangan tersebut hampir menjadi sasaran serangan massa selama proses evakuasi polisi.