Profil Rafli Ridho, Kepala SPPG Kalitengah Sidoarjo yang Diusulkan Dicopot Akibat Kasus MBG di Tengah Kasus Keracunan Massal
--
ASCOMAXX.com - Nama Rafli Ridho mendadak menjadi sorotan tajam publik nasional setelah insiden kedaruratan medis melanda wilayah Jawa Timur. Dirinya memegang posisi struktural penting sebagai Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. Profilnya dicari banyak pihak setelah unit dapur pemenuhan gizi yang dipimpinnya diduga kuat menjadi sumber utama kasus keracunan massal yang menimpa ratusan santri.
Akibat dampak masif dari peristiwa luar biasa tersebut, karier profesional Rafli Ridho kini berada di ujung tanduk. Badan Gizi Nasional (BGN) secara terang-terangan telah melayangkan usulan resmi untuk melakukan pencopotan sekaligus pergantian kepemimpinan pada jabatan yang diemban Rafli, sembari proses hukum dan investigasi klinis laboratorium diselesaikan oleh pihak berwenang.
Baca juga: Cek Pinjol Resmi OJK September 2026 Paling Aman, Inilah Syarat Hingga Ketentuan Pinjaman!
Rekam Jejak Jabatan dan Ruang Lingkup Distribusi SPPG
Sebelum tersandung kasus ini, dr. Rafli Ridho memimpin operasional SPPG Kalitengah yang merupakan salah satu dari 170 unit satuan pelayanan pemenuhan gizi yang didirikan di Kabupaten Sidoarjo guna menyukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG). SPPG Kalitengah sendiri dikonfirmasi telah mengantongi izin resmi dari pemerintah daerah sebelum menjalankan roda produksinya.
Di bawah komando Rafli Ridho, SPPG Kalitengah memikul tanggung jawab pasokan pangan yang sangat besar. Unit dapur ini tidak hanya melayani pemenuhan gizi untuk Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, melainkan juga tercatat aktif menyuplai paket makanan harian ke 19 sekolah umum lainnya di wilayah Tanggulangin. Ruang lingkup distribusi yang luas ini menuntut pengawasan standar sanitasi yang super ketat, yang kini justru menjadi titik evaluasi total kepolisian.
Kronologi Kejadian dan Pernyataan Maaf Resmi
Petaka yang menyeret nama Rafli Ridho ini bermula dari pendistribusian menu makanan MBG pada Selasa, 1 September 2026. Data terbaru dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo mengonfirmasi jumlah korban tumbang melonjak drastis mencapai 566 santri, dengan 88 di antaranya harus menjalani perawatan opname intensif di RSUD Sidoarjo dan RS Delta Surya akibat gejala klinis mual, muntah, pusing, dan dehidrasi.
Merespons gelombang protes masyarakat dan inspeksi mendadak (sidak) Bupati Sidoarjo Subandi, Rafli Ridho secara terbuka menyampaikan permohonan maaf dan penyesalan mendalam di hadapan awak media pada Rabu, 2 September 2026. Ia mengklarifikasi bahwa proses pengolahan menu harian yang terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis, dan buah apel tersebut dimulai sejak pukul 00.00 WIB tengah malam, lalu dikirimkan ke lokasi pondok sekitar pukul 11.00 WIB siang.
Baca juga: Dugaan Korupsi Smartboard Disdik Kabupaten Bogor, KPK Kini Lakukan Penyelidikan Lanjut!
Dalam memberikan keterangan pers, Rafli Ridho melakukan pembelaan dengan menyatakan bahwa pihaknya telah menjalankan mekanisme operasional sesuai dengan prosedur standar. Ia menjelaskan bahwa sebelum hidangan dibagikan massal kepada para santri, sampel makanan telah diserahkan terlebih dahulu kepada penanggung jawab atau Person in Charge (PIC) dari pihak Ponpes Manbaul Hikam untuk dilakukan pengecekan awal.
Rafli mengklaim bahwa pihak PIC pesantren sempat memberikan konfirmasi balik bahwa makanan tersebut aman dikonsumsi, sehingga ia mengira tidak akan ada kendala di lapangan. Selain kasus di pesantren, Rafli juga membenarkan adanya laporan susulan mengenai lima siswa dari SDN Kalitengah 1 dan SDN Kalitengah 2 yang mengalami keluhan keracunan serupa pada malam harinya. Penegasan usulan pencopotan dari Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Dr. Ketut Sumedana, menjadi bukti komitmen ketat pemerintah yang menerapkan kebijakan zero tolerance (tanpa toleransi) terhadap kelalaian pengelolaan pangan anak sekolah.