Thursday 29th of October 2026
×

Terus Tertekan! Nilai Rupiah Menjadi Rp18.156 per Dolar AS, Ternyata Ini Dampaknya dalam Kehidupan Sehari-hari

Terus Tertekan! Nilai Rupiah Menjadi Rp18.156 per Dolar AS, Ternyata Ini Dampaknya dalam Kehidupan Sehari-hari

--

ASCOMAXX.com – Pada artikel berikut ini adalah informasi mengenai dampak rupiah yang terus tertekan yang tidak boleh kamu lewatkan. Simak ulasan lengkapnya di bawah ini agar tidak ketinggalan informasi terbarunya!

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan dan menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Pada perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026, rupiah di pasar spot ditutup pada posisi Rp18.156 per dolar AS, melemah 0,12 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.


Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya impor, mendorong kenaikan harga barang, serta mengurangi kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pelemahan mata uang domestik membuat perusahaan harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk membeli bahan baku, barang modal, dan produk dari luar negeri.

Baca juga: Dubes RI di Mesir Puji Beasiswa BAZNAS, Mahasiswa Diharapkan Untuk Balas Kepercayaan Rakyat

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa tekanan kurs dapat meningkatkan biaya pengadaan energi, bahan industri, obat-obatan, hingga barang konsumsi yang memiliki kandungan impor.

“Sehingga perusahaan menghadapi tekanan ganda dari kenaikan harga dalam dollar AS dan pelemahan nilai tukar,” kata Josua kepada Kompas.com pada Senin, 26 Oktober 2026.

Dalam tahap awal, sebagian perusahaan mungkin memilih menanggung kenaikan biaya tersebut dengan mengurangi margin keuntungan. Namun, apabila rupiah terus melemah selama beberapa bulan, produsen berpotensi menaikkan harga jual untuk menjaga kelangsungan usaha.

Dampaknya dapat merambat ke berbagai sektor, termasuk pangan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Tekanan tersebut juga perlu diperhatikan karena inflasi tahunan Indonesia pada September 2026 tercatat mencapai 3,28 persen, mendekati batas atas sasaran inflasi Bank Indonesia sebesar 3,5 persen.

Baca juga: Kabar Gembira! Seungri Eks BIGBANG Resmi Menikah dengan Kekasih Non-Seleb, Siap Sambut Kelahiran Anak Pertama

Kelompok masyarakat berpendapatan rendah menjadi salah satu pihak yang paling rentan terhadap perubahan harga. Hal ini karena sebagian besar pengeluaran mereka digunakan untuk membeli makanan dan memenuhi kebutuhan pokok.

Berdasarkan berbagai sumber, kelompok 20% penduduk dengan pengeluaran terendah mengalokasikan sekitar 64,6% pengeluarannya untuk makanan, sedangkan rata-rata nasional mencapai 49,8%. Kenaikan harga pangan dengan demikian dapat mengurangi kemampuan mereka memenuhi kebutuhan lainnya.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, turut mengingatkan bahwa pelemahan rupiah dapat memengaruhi harga bahan baku impor, termasuk gandum dan kedelai, serta biaya pengadaan bahan bakar. Kenaikan biaya tersebut berpotensi diteruskan ke harga barang jadi dan ongkos distribusi.

Baca juga: Lupakan Rivalitas, AMD Integrasikan Pustaka ZenDNN Ke Dalam Ekosistem oneDNN Milik Intel Untuk Akselerasi AI

Jika berlangsung berkepanjangan, tekanan itu bukan hanya mengurangi daya beli konsumen, tetapi juga dapat menekan penjualan pelaku usaha dan memperlambat aktivitas ekonomi. Dampak pelemahan kurs juga dapat dirasakan masyarakat yang tinggal di pedesaan meskipun mereka tidak melakukan transaksi menggunakan dolar AS.

Ketergantungan sejumlah industri terhadap bahan impor membuat perubahan nilai tukar dapat memengaruhi harga produk yang digunakan sehari-hari. Contohnya adalah kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe, bahan pakan ternak, pupuk, obat-obatan, serta berbagai barang elektronik. Biaya transportasi yang meningkat juga berpotensi membuat harga kebutuhan di pasar semakin mahal.

Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat menambah beban anggaran negara, terutama ketika harga minyak dunia meningkat. Pemerintah berpotensi menghadapi kebutuhan belanja yang lebih besar untuk subsidi dan kompensasi energi.

Baca juga: Kalender Jawa November 2026: Urutan Weton Lengkap dari Minggu Pahing Sampai Senin Legi Beserta Nilai Neptunya

Sementara itu, perusahaan yang memiliki pinjaman dalam dolar AS harus menyiapkan dana rupiah lebih banyak untuk membayar kewajibannya. Meskipun eksportir dapat memperoleh nilai konversi pendapatan dolar yang lebih tinggi, keuntungan tersebut belum tentu maksimal apabila kegiatan produksi mereka masih bergantung pada bahan baku impor.

Untuk mengurangi tekanan tersebut, stabilitas nilai tukar perlu disertai langkah pengendalian harga pangan dan energi serta perlindungan sosial yang tepat sasaran. Pemerintah juga perlu menjaga disiplin fiskal dan memberikan penjelasan kebijakan ekonomi secara konsisten agar kepercayaan pasar tetap terpelihara.

Bank Indonesia berperan menjaga kestabilan rupiah melalui instrumen moneter dan pengelolaan likuiditas valuta asing dengan mempertimbangkan kondisi cadangan devisa. Pada akhirnya, dampak pelemahan rupiah tidak hanya tercermin dalam pergerakan angka di pasar keuangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi pengeluaran rumah tangga dan kegiatan usaha.

Baca juga: Lupakan Rivalitas, AMD Integrasikan Pustaka ZenDNN Ke Dalam Ekosistem oneDNN Milik Intel Untuk Akselerasi AI

Jika kenaikan biaya impor terus diteruskan kepada konsumen, masyarakat harus mengeluarkan uang lebih besar untuk memperoleh barang yang sama. Sehingga pengendalian inflasi, kestabilan pasokan kebutuhan pokok, dan kebijakan ekonomi yang terukur menjadi faktor penting untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan nilai tukar.

Nah, itu dia informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat dan update berita terbaru hanya melalui website kami!

Source:

Update Terbaru

RELATED POST