Lebih dari 100 Pendaki Masih Terjebak di Ranu Kumbolo Pasca Kahutla, Pihak TNBTS Terus Berupaya Evakuasi
--
ASCOMAXX.com – Sekitar 170 pendaki tengah berada di kawasan perkemahan Ranu Kumbolo saat Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menutup total jalur pendakian Gunung Semeru sebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Blok Ranu Kembang.
Keduanya, Yanuar (19) dan Dwi (25), mengaku tidak membuat api selama terdampar di punggungan bukit sampai kawasan Kalimati. Yanuar memastikan api yang membakar kawasan pendakian bukan berasal dari mereka. Menurut dirinya, selama tiga hari dua malam berada di gunung, mereka tidak pernah membuat perapian.
"Kami tidak bikin api, walaupun dingin kami cari tempat yang enggak kena angin biar enggak kedinginan. Kalau masak kami pakai kompor," jelas Yanuar di Mapolres Malang, Kamis 27 Agustus 2026. Yanuar juga menyebut titik awal kebakaran yang berada di Blok Ranu Kembang bukan merupakan jalur yang mereka lewati ketika menuju Kalimati.
Sebelumnya, dua pendaki ilegal tersebut dievakuasi petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) usai dilaporkan hilang oleh keluarga selama tiga hari. Yanuar dan Dwi mendaki Gunung Semeru melalui jalur ilegal via Limpak, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, pada Senin 24 Agustus 2026 malam.
Keduanya kemudian terdampar selama tiga hari dua malam di punggungan bukit yang mengarah ke Kalimati. Pada Kamis, mereka ditemukan di Ranu Kumbolo ketika petugas melakukan evakuasi terhadap 170 pendaki yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di jalur pendakian Gunung Semeru.
Kebakaran di jalur pendakian Gunung Semeru diketahui terjadi sejak Rabu 26 Agustus 2026. Ketika kebakaran terjadi, terdapat 170 pendaki yang tengah berkemah di Ranu Kumbolo. Jumlah tersebut belum termasuk Yanuar dan Dwi yang kemudian ikut dievakuasi.
Seluruh area pendakian kini disterilkan secara total seusai dikeluarkannya Pengumuman Resmi Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) Nomor PG.20/T.8/TU/HMS.01.07/B/08/2026 sejak Rabu 26 Agustus 2026.
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Lumajang, Isnugroho, mengonfirmasi bahwa seluruh pendaki yang berada di Ranu Kumbolo diarahkan turun menuju Pos Ranupani. Langkah tersebut diambil sebagai upaya mengantisipasi rembetan titik api yang semakin meluas dari Blok Ranu Kembang.
"Hari ini dua regu tim gabungan turun ke Ranu Kumbolo. Jalur pendakian Semeru ditutup total akibat karhutla dan lokasi harus bersih dari aktivitas pendaki," jelas Isnigroho.
Ia menambahkan bahwa titik kebakaran di Blok Ranu Kembang memiliki topografi yang sungguh curam serta terjal. Sebab jalur darat sulit ditembus petugas, pemadaman direncanakan melalui jalur udara memakai metode water bombing.
Penutupan total tersebut membatalkan izin operasi jalur pendakian yang sempat dibuka kembali sejak 24 April 2026 lalu (dengan batas Ranu Kumbolo). Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menyatakan penutupan tersebut krusial guna memberikan ruang gerak bagi tim penyelamat sekaligus mempermudah proses pemadaman.
Pihak otoritas taman nasional mengimbau keras seluruh wisatawan, pendaki, serta pelaku jasa wisata supaya tidak memaksakan diri menerobos jalur yang ditutup. Dengan masih adanya sekitar 170 pendaki di Ranu Kumbolo, proses evakuasi menjadi prioritas seraya pemadaman kebakaran terus dilakukan di Blok Ranu Kembang.