Tuesday 25th of August 2026
×

Kekeringan di Pandeglang Buat Sumur Mengering Warga Nekad Pakai Air Parit dan Selokan Sementara Pemkab Distribusikan 313.000 Liter Air Bersih

Kekeringan di Pandeglang Buat Sumur Mengering Warga Nekad Pakai Air Parit dan Selokan Sementara Pemkab Distribusikan 313.000 Liter Air Bersih

--

ASCOMAXX.com Berikut ini akan kami sampaikan informasi mengenai kekeringan di Pandeglang yang wajib kamu tahu. Simak informasi selengkapnya yang sudah kami rangkum di sini!

Kemarau panjang di Kabupaten Pandeglang, Banten, mulai menimbulkan persoalan yang lebih serius daripada sekadar berkurangnya persediaan air.


Ketika sumur-sumur warga mengering, sebagian masyarakat harus mencari sumber air lain untuk mempertahankan aktivitas sehari-hari. Di sejumlah lokasi, air selokan bahkan digunakan untuk mandi dan mencuci karena pasokan air bersih belum tersedia secara rutin.

Kekeringan di Pandeglang Buat Warga Nekad Pakai Air Parit dan Selokan 

Kondisi tersebut dialami warga Kampung Cisampih, Desa Pakuluran, Kecamatan Koroncong. Kekeringan yang berlangsung sekitar lima bulan membuat hampir seluruh sumur warga tidak lagi dapat diandalkan. Air bersih menjadi kebutuhan yang semakin sulit dipenuhi, sementara kegiatan rumah tangga tetap harus berjalan setiap hari.

Baca juga: 42 Desa di Pandeglang Alami Kekeringan Selama 5 Bulan Tercatat 24 Ribu Warga Tak Dapat Akses Air Bersih

Baca juga: Syarat Mengajukan Perubahan Desil Kemensos Yang Harus Kamu Persiapkan, Perbarui Data Agar Bansos Tepat Sasaran

Baca juga: Cara Ubah Desil yang Tidak Sesuai Lewat HP, Tinggal Unduh Aplikasinya Cuma Butuh 1 Menit

Salah seorang warga, Eli (43), mengatakan keluarganya menggunakan air selokan yang keruh untuk mencuci pakaian, mencuci piring, hingga membersihkan rumah. Untuk kebutuhan minum, ia masih mengandalkan air dari tetangga. Menurutnya, warga membutuhkan distribusi air bersih yang lebih rutin karena bantuan yang diterima sejauh ini belum datang secara berkala.

Kondisi sumber air alternatif tersebut juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Warga menyebut air yang digunakan berasal dari aliran sungai yang melewati kawasan permukiman. Selain keruh, saluran itu juga menerima limbah rumah tangga dan dipenuhi sampah. Eli mengaku kulitnya kerap terasa gatal setelah menggunakan air tersebut untuk mandi.

Ujang Udiyana (52), warga lainnya, mengatakan kekeringan memang menjadi persoalan yang berulang setiap musim kemarau. Namun, menurutnya, kondisi tahun ini terasa lebih berat karena hujan tidak turun dalam waktu lama. Ketika sumur mengering, warga akhirnya menggunakan air yang masih tersedia meskipun kualitasnya tidak ideal.

Dampak kekeringan tersebut tidak hanya terjadi di Kampung Cisampih. Data BPBD-PK Kabupaten Pandeglang per 21 Agustus 2026 menunjukkan sekitar 24 ribu jiwa atau 6.300 KK di 42 desa yang berada di 15 kecamatan terdampak kekeringan. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan akses air telah meluas ke sejumlah wilayah.

Pemkab Distribusikan 313.000 Liter Air Bersih

Pemerintah Kabupaten Pandeglang telah menyalurkan ratusan ribu liter air bersih sebagai upaya memenuhi kebutuhan masyarakat. Hingga 21 Agustus, sekitar 313 ribu liter air telah didistribusikan. Sehari setelahnya, data BPBD-PK mencatat total distribusi meningkat menjadi 329 ribu liter untuk 25.962 jiwa atau 7.078 KK di 44 desa.

Baca juga: HEBOH! Tarif Parkir Mobil Tembus Rp60 Ribu, Pramono Bantah dan Tegaskan Belum Tetapkan Angka

Baca juga: Naskah Kuno Sasak di Kampung Adat Sade Berisi Apa? Warisan Tradisi yang Terancam Hilang Usai Kebakaran

Baca juga: Dahsyatnya Kebakaran Kampung Adat Sade, Naskah Kuno Sasak Ikut Musnah

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD-PK Pandeglang, Lilis Sulistiyati, mengatakan penyaluran dilakukan secara bertahap berdasarkan laporan dan kebutuhan masyarakat. Distribusi telah berlangsung sejak Juni dan terus dilakukan hingga Agustus, termasuk pengiriman 8.000 liter air ke Desa Weru, Kecamatan Sukaresmi, pada 22 Agustus.

Di tengah distribusi bantuan tersebut, penggunaan air selokan untuk kebutuhan rumah tangga menjadi perhatian karena menunjukkan keterbatasan akses air bersih yang dihadapi sebagian warga. Selama kemarau belum berakhir, keberlanjutan pasokan air menjadi salah satu kebutuhan utama bagi masyarakat terdampak. Terimakasih sudah membaca!

Source:

Update Terbaru

RELATED POST