Mengenal Mbah Riyan: Kuli Bangunan Asal Kudus Tolak MUI Award 2026 Demi Jaga Keikhlasan Hati
--
Biodata Singkat
Berikut adalah profil dan fakta menarik mengenai sosok Mbah Riyan:
- Nama Pena: Di dunia literasi Islam internasional, ia dikenal dengan nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi.
- Karya Fantastis: Ia telah melahirkan 12 jilid kitab besar dan lebih dari 100 naskah ilmiah berupa hasil tahqiq (penyuntingan kritis) serta ta'liq (catatan penjelas) atas kitab-kitab kuning klasik. Karya-karyanya menjadi rujukan akademisi turats internasional.
- Sembunyi dari Publik: Mbah Riyan merupakan tipikal ulama mastur (tersembunyi). Warga sekitar tempat tinggalnya di Kudus hanya mengenalnya sebagai tukang bangunan biasa dan hobi memancing.
- Penghargaan: Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat menobatkannya sebagai pemenang MUI Award 2026 karena kagum akan kontribusi sains Islamnya di tengah keterbatasan ekonomi.
- Aksi Penolakan: Mbah Riyan menolak menghadiri panggung formal dan menolak penghargaan tersebut. Langkah ini ia ambil murni karena ingin menghindari sorotan lampu publik agar fokus dakwah penulisan ilmiahnya tidak terganggu popularitas.
Baca juga: Kronologi Prajurit TNI Tewas di Tangerang Usai Dikeroyok Perkara Salah Paham Saat Antre Sate Taichan
Baca juga: Pabrik Mazda di Bogor Diresmikan, Siap Menerima Produksi Rakitan 10.000 Mobil Dalam Satu Tahun
Namun, alih-alih hadir di panggung megah ibu kota untuk menerima piala dan hadiah, Mbah Riyan secara halus menolak penghargaan tersebut. Langkah ini ia ambil murni karena memegang teguh prinsip khumul, yaitu sebuah konsep dalam tradisi Islam untuk memilih hidup tersembunyi dan menjauhi popularitas demi menjaga kemurnian niat dan keikhlasan hati. Ia khawatir sorotan lampu kamera dan sanjungan publik justru akan mengganggu kefokusannya dalam menulis.
Bagi tetangga sekitarnya, Mbah Riyan hanyalah seorang warga biasa yang ramah, pekerja keras, dan memiliki hobi memancing di waktu senggang. Tidak ada yang menyangka bahwa di balik pakaiannya yang sederhana tersimpan kecerdasan luar biasa yang diakui secara internasional.
Keputusan Mbah Riyan menolak penghargaan tersebut mengundang rasa kagum dari berbagai pihak, termasuk para pengurus MUI sendiri. Kisah hidupnya menjadi tamparan sekaligus inspirasi berharga di tengah era modern yang serba mengejar popularitas dan pengakuan media sosial. Mbah Riyan membuktikan bahwa dedikasi terhadap ilmu pengetahuan sejati tidak pernah membutuhkan tepuk tangan dunia.