Adu Ekonomi dan Flexing BBM: Kasus Dea Arranoya Bikin Sang Ayah Minta Maaf Hingga Kehilangan Jabatan
--
ASCOMAXX - Buntut dari video pamer harta dan dugaan penimbunan BBM yang viral di media sosial, Asisten I Setdakab Gayo Lues, Nevirizal, memutuskan mundur dari jabatannya. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk pertanggungjawaban moral setelah konten milik putrinya, Dea Arranoya, memicu kemarahan publik pascabencana alam yang melanda wilayah Aceh tersebut.
Fenomena pamer harta atau flexing oleh keluarga pejabat publik kembali memicu konsekuensi serius di lingkungan pemerintahan Indonesia. Kali ini, Asisten I Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Gayo Lues, Aceh, Nevirizal, secara resmi menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya.
Baca juga: Tak Tenang! Sarwendah Pilih Angkat Kaki dari Rumah Cilandak, Faktor Kenyamanan Anak-Anak Jadi Alasan
Baca juga: Profil dan Biodata Tirta Siregar, Konten Kreator yang Viral Usai Sampaikan Pesan Untuk Denny Sumargo
Langkah tersebut diambil sebagai bentuk pertanggungjawaban moral setelah konten media sosial milik putrinya, Dea Arranoya, viral dan memantik kecaman luas dari masyarakat.
Gelombang protes dari warganet bermula ketika Dea Arranoya mengunggah sejumlah konten yang dinilai tidak peka terhadap situasi sosial di sekitarnya. Melalui akun pribadinya, ia kerap memamerkan gaya hidup mewah, mulai dari perjalanan ke luar negeri hingga melontarkan narasi "adu ekonomi" yang menyinggung perasaan publik.
Kemarahan masyarakat mencapai puncaknya saat sebuah unggahan video memperlihatkan adanya dugaan penimbunan Bahan Bakar Minyak (BBM). Dalam rekaman tersebut, tampak sekitar 15 jeriken berukuran besar yang diduga berisi bahan bakar berderet di area rumahnya. Aksi pamer ini memicu ironi mendalam mengingat masyarakat Kabupaten Gayo Lues saat itu tengah berjuang menghadapi masa-masa sulit pascabencana alam.
Kronologi Kasus Viral Dea Arranoya
Kemarahan warganet memuncak karena salah satu unggahannya memperlihatkan deretan sekitar 15 jeriken berisi BBM di rumahnya. Aksi ini dinilai sangat tidak peka mengingat masyarakat Gayo Lues sedang menghadapi situasi ekonomi sulit pascabencana alam.