Ulta Levenia Lulusan Mana? Intip Profil dan Biodata Analis Keamanan yang Jadi Sorotan Usai Paparkan Rencana Perdamaian Gaza
--
ASCOMAXX.com – Pada artikel berikut ini akan berbagi informasi mengenai profil dan biodata Ulta Levenia yang tidak boleh kamu lewatkan. Simak ulasan lengkapnya di bawah ini agar tidak ketinggalan informasi terkini!
Nama Ulta Levenia menjadi perhatian publik setelah memaparkan 20 poin rencana perdamaian Gaza yang diusung Board of Peace (BoP). Paparan tersebut memicu perdebatan di media sosial, dengan sebagian pihak mengkritik isi dan pendekatan yang disampaikan. Di tengah polemik tersebut, sosok Ulta ikut menjadi sorotan karena perannya sebagai Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP).
Ulta Levenia dikenal memiliki latar belakang di bidang hubungan internasional, keamanan, dan intelijen. Ia merupakan lulusan Program Studi Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI), kemudian melanjutkan pendidikan magister di University of Leeds, Inggris, dengan konsentrasi Terrorism, Security, and Policing. Latar belakang akademiknya membuat ia kerap memberikan analisis mengenai isu geopolitik, pertahanan, dan keamanan global.
Sebelum bergabung dengan Kantor Staf Presiden, Ulta aktif sebagai akademisi, peneliti, dan analis kebijakan. Ia dikenal sering membahas persoalan terorisme, diplomasi, serta strategi pertahanan Indonesia melalui berbagai forum diskusi, podcast, maupun media sosial.
Namanya semakin dikenal publik setelah beberapa kali tampil membahas kebijakan Presiden Prabowo Subianto, terutama terkait politik luar negeri dan pertahanan. Dalam sejumlah kesempatan, Ulta menyampaikan dukungannya terhadap langkah diplomasi pemerintah yang dinilainya mengutamakan kepentingan nasional Indonesia.
Sorotan terbaru muncul ketika Ulta menjelaskan 20 poin rencana perdamaian Gaza dari Board of Peace. Penjelasan tersebut menuai kritik dari sejumlah kelompok yang menilai gagasan tersebut kontroversial. Menanggapi hal itu, Ulta menepis anggapan bahwa Board of Peace tidak berpihak pada Palestina dan menegaskan forum tersebut tetap mengadvokasi kemerdekaan Palestina.