Heboh Pemusnahan 5 Ton Ikan Sapu-Sapu di Jakarta: MUI Beri Catatan Tegas Tentang Penguburan Hidup-Hidup
--
Hal ini sejalan dengan maqasid syariah untuk melindungi biodiversitas sungai di Jakarta. Ikan sapu-sapu diketahui merupakan satwa pendatang asal sungai-sungai di Amerika Selatan yang berkembang biak dengan sangat masif serta kerap merusak bantaran kali serta mendominasi habitat sehingga mengancam punahnya spesies ikan lokal yang bernilai ekonomi.
Operasi penangkapan massal ikan sapu-sapu ini salah satunya digencarkan secara masif di wilayah Jakarta Selatan. Aparat gabungan setempat yang diterjunkan berhasil menyisir area Pintu Air Setu Babakan, Jagakarsa.
Baca juga: Klarifikasi Anak Bupati Malang, Usai Dilantik Sang Ayah jadi Kadis LH
Baca juga: Helikopter PK-CFX Jatuh di Sekadau, Tim SAR Lakukan Evakuasi Tak Ada Korban Selamat!
Dalam rentetan operasi berkala tersebut, tim berhasil mengevakuasi tidak kurang dari 5 ton ikan sapu-sapu untuk segera dimusnahkan. Sebelumnya, operasi serupa di titik lain juga sukses menjaring tonan ikan yang merajai dasar-dasar kali di Jakarta.
Merespons gelombang polemik dan masukan dari pihak Majelis Ulama Indonesia, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan melalui Wali Kota Muhammad Anwar langsung mengambil langkah solutif yang cepat.
Pihak pemerintah kota memastikan bahwa proses penanganan terhadap berton-ton ikan hasil tangkapan baru tersebut selanjutnya akan sepenuhnya diproses dengan mengikuti serta menaati seluruh petunjuk dan rekomendasi yang telah diberikan oleh pihak MUI. Anwar menegaskan bahwa arahan tersebut sangat penting dilaksanakan demi menghindari kesalahpahaman dan kekeliruan moral di tengah masyarakat luas di kemudian hari.
Langkah pengendalian spesies invasif memang diakui para ahli ekologi sebagai hal yang krusial. Ikan sapu-sapu bukan hanya merebut pakan ikan lokal, melainkan dagingnya dinilai sangat tidak layak serta berbahaya untuk dikonsumsi manusia. Mengingat kemampuannya hidup di air yang sangat kotor, daging ikan sapu-sapu di sungai perkotaan rawan mengandung akumulasi logam berat beracun seperti merkuri dan timbal. Oleh sebab itu, jalan satu-satunya untuk memutus rantai kerusakannya hanyalah dengan pembasmian sistematis yang kini didorong agar dapat dilakukan dengan cara-cara yang lebih beretika.