Tuesday 13th of October 2026
×

Miris! Pengakuan ABK KM Maulana 23 Disiksa Karena Tak Penuhi Target, Disiram Air Panas Hingga Makan Bubur Besi

Miris! Pengakuan ABK KM Maulana 23 Disiksa Karena Tak Penuhi Target, Disiram Air Panas Hingga Makan Bubur Besi

--

ASCOMAXX.com - Empat orang anak buah kapal (ABK) KM Maulana 23 yang mengalami penganiayaan akhirnya dipulangkan ke Jakarta pada Kamis (8 Oktober 2026).

Sebelum dipulangkan, keempat pria tersebut sempat menjalani perawatan medis selama beberapa hari di Dobo, Kepulauan Aru, Maluku. Setibanya di Jakarta, para korban mulai menceritakan kekerasan dan hukuman yang mereka alami selama bekerja di kapal tersebut.


Dipaksa Makan Bubur Campur Besi Berkarat

Salah satu korban, Syawal (65), mengungkapkan penganiayaan yang dialami para ABK ketika mereka gagal mencapai target tangkapan cumi-cumi sebesar 2 kilogram pada akhir sesi penangkapan.

Ia menceritakan bahwa dirinya dihukum dengan harus memakan bubur yang dicampur potongan besi berkarat setelah gagal memenuhi kuota tangkapan cumi-cumi.

Baca juga: Memanas! Sarwendah Unggah Rekaman Video Call Ruben Onsu dengan Sang 'Penjaga Hati'

"Awal-awalnya (disiksa) ya enggak dapat target, enggak memenuhi target. Sempat saya dipukul, sesudah itu hormat bendera, kalau enggak hormat bendera disuruh push up, yang terakhirnya makan bubur," ujarnya di Mapolres Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara," ujarnya di Markas Polisi Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Kamis (8 Oktober 2026).

Menurutnya, terdapat tiga potongan besi berkarat di dalam bubur tersebut.

"Besi bandul, besi buat bangunan itu," katanya.

Syawal mengaku tidak tahu bahwa bubur tersebut mengandung potongan besi berkarat; ia baru menyadarinya setelah ia selesai memakannya.

"Kalau sampai tahu ya saya juga enggak mau bubur itu saya makan," tegasnya.

Selain memakan bubur yang dicampur besi, Syawal mengatakan bahwa ia sempat dipukul atau ditampar dua kali selama bekerja di kapal tersebut.

Menyaksikan ABK Lain Disiram Air Panas

Ia kemudian menceritakan kekerasan yang dialami ABK lainnya, termasuk kejadian di mana dua korban lain ditendang dan disiram air panas.

"Kalau panggilan kasar ya bisa juga. Terus melakukan kekerasan dengan tangan ya, kalau (adanya ancaman) pembunuhan enggak. Kekerasan tangan aja ya seperti dipukul, terus tendang, kadang pun siram air panas," ujarnya.

Menurutnya, kapten kapal KM Maulana 23 adalah otak di balik segala bentuk hukuman yang dijatuhkan kepada para awak kapal. Sementara itu, tindakan kekerasan secara langsung terhadap para korban dilakukan oleh awak kapal lainnya yang bertindak atas perintah kapten.

"(Total orang di atas kapal KM Maulana 23) 28 orang dengan nahkoda. Sebagian pukul yang empat orang ini (korban), yang sebagiannya enggak," tambahnya.

Melaut demi Modal Usaha

Syawal menjelaskan bahwa ia menerima tawaran pekerjaan sebagai awak kapal dari seorang perekrut yang sudah ia kenal di Muara Baru, Jakarta Utara. Sebagai bagian dari tawaran tersebut, ia diberi kesempatan untuk mengambil uang muka sebesar Rp7 juta.

Baca juga: Kronologi Penemuan Pria Tewas Terbungkus Sleeping Bag di Kos Jakarta Barat, Polisi: 'Masih Kami Lakukan Pemeriksaan Forensik'

"Nah, saya ditawarkan kerja dengan calo, lalu saya mau. Mau ditawarin kerja terus kasbon Rp 7 juta. Gajinya enggak dikasih, enggak dijelaskan. Kasbon aja," ungkapnya.

Ia menyatakan bahwa ia menerima tawaran tersebut karena membutuhkan modal untuk memulai usaha di Jakarta. Ironisnya, alih-alih mendapatkan modal tersebut, ia justru mengalami berbagai bentuk hukuman dan kini menjadi korban penganiayaan.

"Untuk modal kerja lainnya gitu. Kalau itu dapat modal ya saya enggak kembali lagi ke laut," tambahnya.

Source:

Update Terbaru

RELATED POST