Teror Pocong Makin Marak di Berbagai Wilayah, Jadi Modus Baru Kriminal Hingga Perampokan!
--
Dua tahun kemudian, kasus serupa muncul di Depok dan Karawang. Hantu-hantu itu muncul di jalanan yang kurang penerangan, yang dikenal rawan kejahatan. Seiring waktu, polanya berevolusi. Apa yang awalnya dianggap sebagai lelucon jalanan berubah menjadi teknik pengalihan perhatian yang membuka peluang kejahatan.
Sosiolog UGM R. Derajad Sulistyo Widhyharto percaya taktik ini efektif karena didasarkan pada budaya Indonesia, yang tetap dekat dengan dunia mistis. Menurutnya, modernitas tidak secara otomatis memberantas kepercayaan pada hal-hal gaib.
Baca juga: Ketua GRIB Jaya Hercules Dilaporkan Terkait Kasus Penyekapan, Kasus Memanas Tuai Kontroversi!
Masyarakat Indonesia hidup di persimpangan antara rasionalitas dan spiritualitas. Di satu sisi, masyarakat semakin berpendidikan, tetapi di sisi lain, mereka masih mempertahankan kepercayaan mereka pada makhluk gaib melalui agama, tradisi, dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kesenjangan budaya ini dimanfaatkan dengan lihai oleh para kriminal.
"Memanfaatkan kedekatan masyarakat dengan hal-hal yang bersifat gaib. Ending-nya itu kriminal, cuma dia menggunakan metode atau caranya itu adalah dengan cara pocong tadi" kata Derajad, menurut informasi yang kami kumpulkan dari Suara.com.
Ketika korban percaya ancaman itu bersifat gaib, kemampuan penalaran mereka melemah dan respons spontan mengambil alih. Rasa takut menjadi titik masuk termudah untuk melumpuhkan kewaspadaan.
Patroli yang Diperkuat
Meningkatnya teror pocong, yang diduga digunakan sebagai taktik kriminal, telah mendorong pihak berwenang untuk mulai mengidentifikasi ancaman yang lebih serius.
Polisi Tangerang menegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar gangguan publik, melainkan strategi untuk menciptakan kepanikan, menghasilkan lingkungan yang tenang, dan mempermudah penyusupan pencuri dan perampok.