Tangis Keluarga Pecah Saat Dua ABK Korban Perkelahian di Perairan Sri Lanka Tiba di Rumah Duka
--
ASCOMAXX.com – Pada artikel berikut ini adalah informasi mengenai ABK asal Tanjungbalai tewas yang tidak boleh kamu lewatkan. Simak ulasan lengkapnya di bawah ini agar tidak ketinggalan informasi terbarunya!
Suasana haru menyelimuti kedatangan jenazah dua anak buah kapal (ABK) yang meninggal dunia akibat dugaan perkelahian di atas kapal penangkap ikan di perairan Sri Lanka. Kedua jenazah tiba di rumah duka pada Minggu (18/10/2026), setelah sebelumnya dipulangkan ke Indonesia.
Kedua korban diketahui bernama Ferry Irawan Siregar, 26, warga Kelurahan Tanjungbalai Kota II, Kecamatan Tanjungbalai Selatan, Kota Tanjungbalai, serta Faisal, 37, yang berasal dari Desa Bagan Asahan, Kabupaten Asahan. Kedatangan mereka di kampung halaman disambut keluarga yang tak kuasa menahan kesedihan.
Baca juga: HEBOH! Kepsek MI di Lamongan Diduga Dianiaya Oknum Anggota TNI, Ternyata Wali Muridnya Sendiri
Jenazah tiba sekitar pukul 13.17 WIB dengan menggunakan dua ambulans. Salah satu kendaraan yang mengantarkan jenazah tersebut merupakan ambulans milik Polres Sukabumi, Jawa Barat. Begitu peti jenazah diturunkan, tangisan keluarga pecah mengiringi kepulangan kedua korban untuk terakhir kalinya.
Peristiwa tragis yang merenggut nyawa Ferry dan Faisal dilaporkan terjadi pada 30 September 2026. Keduanya diduga terlibat perkelahian dengan sesama awak kapal ketika bekerja di atas KM Cahaya di perairan Sri Lanka. Insiden tersebut kini menjadi perhatian aparat penegak hukum untuk mengungkap rangkaian kejadian yang sebenarnya.
Ira Siregar, tante Ferry, mengungkapkan bahwa keluarga tidak langsung mengetahui kabar kematian keponakannya. Informasi duka tersebut baru diterima sekitar dua pekan setelah kejadian, ketika kapal yang membawa para awak tiba di Teluk Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, pada 15 Oktober 2026.
Baca juga: Anggota Polisi Asal NTT Tewas di Markas Polairud, Ternyata Begini Kronologi Tragisnya
“Keponakan kami ini meninggal pada 30 September 2026, tetapi kami baru mendapat kabar 14 hari kemudian karena kapal tiba di Teluk Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, pada 15 Oktober,” ujarnya.
Ira mengaku sangat terpukul atas kejadian yang menimpa Ferry. Menurutnya, para awak kapal sama-sama bekerja untuk mencari penghasilan, sehingga kematian keponakannya dalam insiden tersebut menjadi pukulan berat bagi keluarga. Ia berharap kasus ini ditangani secara serius agar seluruh pihak yang terlibat dapat dimintai pertanggungjawaban.
“Kenapa sampai sekejam ini, padahal sama-sama mencari makan di laut. Kami sangat berharap Polres Sukabumi dapat mendalami keterlibatan pihak lainnya dan menghukum berat para pelaku,” ucapnya.
Ferry merupakan anak sulung dari empat bersaudara. Kepergiannya terasa semakin menyakitkan bagi keluarga karena ia dikabarkan berencana menikah pada Juli 2027. Harapan untuk melihat Ferry membangun rumah tangga kini tidak dapat terwujud, meninggalkan kesedihan mendalam bagi orang-orang terdekatnya.
Di lain sisi, Polres Sukabumi masih mendalami kasus kematian kedua ABK tersebut. Penyidik perlu menelusuri keterangan para saksi, kronologi perkelahian, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain untuk memastikan penyebab kematiannya.
Itu dia informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat dan update berita terbaru hanya melalui website kami!