Waspada Kemarau Panjang, BPBD Ponorogo Catat Lonjakan Titik Api Karhutla di 3 Kecamatan
--
Kronologi dan Hambatan Pemadaman Api di Lapangan
Berdasarkan keterangan dari para saksi di lapangan, mayoritas objek atau vegetasi yang terbakar didominasi oleh tumpukan serasah daun jati kering, rumput liar, serta semak belukar tumbuhan bawah. Material-material organik yang kehilangan kandungan air akibat panas ekstrem ini menjadi bahan bakar potensial yang membuat percikan api kecil langsung berubah menjadi kobaran besar.
Di kawasan Gunung Babak Slahung misalnya, kepulan asap tebal pertama kali terpantau oleh tim piket patroli BPBD pada sore hari sekitar pukul 16.30 WIB.
Baca juga: Demo Hari Ini 27 Agustus: Ribuan Massa Kepung DPR Desak Pengesahan RUU Perampasan Aset
Baca juga: Kebakaran Pabrik Tekstil PT Mahatex di Kediri Sebabkan Kerugian Hingga Rp500 Juta!
Mendapat laporan kedaruratan tersebut, personel gabungan yang terdiri dari jajaran Polsek Slahung, Koramil Slahung, Perhutani, dan tim reaksi cepat BPBD Ponorogo langsung dikerahkan ke lokasi untuk melakukan lokalisasi api. Petugas harus bekerja ekstra keras karena lokasi kebakaran berada di medan perbukitan yang terjal dengan akses jalan yang sulit dilalui kendaraan pemadam kebakaran. Pemadaman dilakukan secara manual menggunakan alat gepyok, penyemprotan air dari truk tangki penyuplai terdekat, serta pembuatan ilaran (sekat bakar) agar api tidak meluas mendekati kawasan permukiman warga yang berjarak sekitar 300 meter.
Pihak kepolisian bersama instansi terkait hingga kini masih melakukan pendalaman dan penyelidikan intensif guna memastikan penyebab pasti dari kemunculan titik api yang terjadi hampir bersamaan tersebut. Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo mengingatkan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan penuh selama puncak musim kemarau bergulir. Karakteristik cuaca yang sangat kering berpotensi memicu bencana kebakaran hebat bahkan dari kelalaian kecil sekalipun.