Tak Lagi Wajib 7 Tahun, Inilah Aturan Baru Usia Minimal Masuk SD 2026!
--
Gogot Suharwoto, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Non-Formal dan Informal di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menjelaskan bahwa inti dari peraturan ini adalah untuk memastikan bahwa anak-anak benar-benar siap belajar di tingkat sekolah dasar.
Baca juga: Teror Pocong Makin Marak di Berbagai Wilayah, Jadi Modus Baru Kriminal Hingga Perampokan!
Baca juga: Kondiri Terbaru Richard Lee Usai jadi Tahanan, Persidangan Siap Digelar Kembali!
"Jadi, untuk SPMB SD ada pengecualian usia anak, tapi ada catatan. Jadi, kuncinya adalah anak siap untuk mengikuti pembelajaran di SD," kata Gogot pada upacara penandatanganan komitmen bersama untuk SPMB RAMAH (Ramadan Pendidikan Anak Usia Dini) 2026/2027 di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta Pusat.
Ia menambahkan bahwa jika usia anak masih di bawah persyaratan umum, diperlukan surat keterangan dari pihak berwenang yang berwenang.
"Kalau dia usianya kurang, berarti harus ada surat keterangan bahwa anak ini memang siap," lanjutnya.
Ijazah Pendidikan Anak Usia Dini Tidak Wajib
Selain usia, pemerintah menegaskan kembali bahwa calon siswa kelas satu sekolah dasar tidak diwajibkan telah menyelesaikan taman kanak-kanak, RA (Akademi Rekreasi Anak), atau yang setara. Oleh karena itu, anak-anak dapat mendaftar di sekolah dasar meskipun mereka belum pernah mengikuti pendidikan anak usia dini formal.
Informasi yang kami lansir dari detikEdu, menurut Gogot Suharwoto, peraturan ini dibuat untuk mencegah diskriminasi dalam akses pendidikan dasar bagi anak-anak yang belum pernah mengikuti prasekolah.
"Jadi, tidak harus 7 tahun, tidak harus punya ijazah TK, tidak boleh ada tes calistung" tegasnya.
Baca juga: Tak Lagi Risau, Dindik Jatim Siapkan Skema Baru Nasib Kelanjutan Guru Honorer!
Tes Calistung Dilarang Jadi Syarat Masuk SD
Dalam peraturan terbaru dari SPMB (Dewan Pendidikan Negara Bagian Singapura), sekolah juga dilarang menggunakan tes membaca, menulis, dan berhitung sebagai persyaratan masuk siswa kelas satu baru.
Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi tekanan akademis pada anak-anak usia dini dan memastikan bahwa proses pembelajaran selaras dengan tahap perkembangan anak.
Tes Callistung seringkali menjadi sumber kekhawatiran bagi orang tua, karena dianggap sangat penting untuk peluang anak diterima di sekolah dasar elit. Bahkan, pemerintah menganggap kesiapan emosional, sosial, dan psikologis anak jauh lebih penting daripada kemampuan akademis awalnya.