Tuesday 20th of October 2026
×

BBM Langka di Beberapa Daerah Sebabkan Antrian Panjang di SPBU, Bahlil Berikan Respon Terkait Kondisi Ini!

BBM Langka di Beberapa Daerah Sebabkan Antrian Panjang di SPBU, Bahlil Berikan Respon Terkait Kondisi Ini!

--

ASCOMAXX.com - Antrean panjang untuk mendapatkan bahan bakar di beberapa wilayah disebabkan oleh kendala dalam rantai distribusi, bukan karena kehabisan stok.

Bahlil, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi—yang juga menjabat sebagai Menteri ESDM—menyatakan pada Senin, 19 Oktober 2026, bahwa distribusi bahan bakar di sebagian wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra telah dialihkan ke moda transportasi darat.


Perubahan ini terpaksa dilakukan karena surutnya air sungai selama musim kemarau, sebagaimana dilaporkan oleh Antara.

Pengalihan ini berlaku untuk wilayah-wilayah yang sebelumnya bergantung pada transportasi sungai. Menurut Bahlil, kapal tangki berkapasitas besar mengalami kendala operasional saat permukaan air menurun, sehingga Pertamina memutuskan untuk "beralih ke transportasi darat."

Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil usai rapat koordinasi mengenai penanganan hambatan distribusi di Terminal Bahan Bakar Sanggaran, Denpasar.

Baca juga: Daftar Tuntutan Demo Mahasiswa Hari Ini di Jakarta, Bertepatan 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Terdapat konsekuensi dari perubahan ini: waktu tempuh transportasi darat menuju konsumen menjadi lebih lama, sebuah fakta yang diakui oleh Bahlil. Oleh karena itu, pemerintah telah meminta Pertamina untuk menambah armada transportasinya.

Terkait stok bahan bakar, Bahlil mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir. Cadangan nasional untuk jenis Pertalite mencukupi untuk kebutuhan lebih dari 16–18 hari, sementara jenis bahan bakar lainnya memiliki cadangan rata-rata di atas 2

0 hari—memenuhi standar minimum nasional. Ia menegaskan bahwa pemerintah saat ini tengah mengoptimalkan distribusi dan berupaya untuk terus meningkatkan durasi ketahanan stok tersebut.

Di Bali, antrean mulai terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sejak Minggu, 11 Oktober 2026. Pada 14 Oktober 2026, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa situasi tersebut dipicu oleh keterlambatan kapal pengangkut bahan bakar.

Pertamina melaporkan adanya kendala teknis pada jangkar kapal, yang menyebabkan jadwal sandar dan bongkar muat—yang seharusnya berlangsung pada Senin, 12 Oktober 2026, pukul 06.30 WITA—harus diundur menjadi sekitar pukul 22.00 WITA.

Keterlambatan selama beberapa jam saja sudah dapat dirasakan dampaknya di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), mengingat bahan bakar harus melalui berbagai tahapan: pengangkutan, pembongkaran, penyimpanan, dan penyaluran akhir.

Jika satu tahapan saja dalam rantai pasok terganggu, SPBU tertentu bisa kehabisan stok, meskipun terminal di lokasi lain masih memiliki persediaan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat bahwa hambatan distribusi serupa pernah terjadi sebelumnya di Makassar, Sulawesi Selatan.

Lonjakan permintaan semakin memperburuk situasi ini. Pertamina Patra Niaga melaporkan bahwa konsumsi harian rata-rata Pertalite (bensin bersubsidi) di Bali mencapai sekitar 2.200 kiloliter.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, mengakui bahwa peningkatan konsumsi bahan bakar bersubsidi telah memengaruhi ketersediaan di SPBU; selisih harga antara bahan bakar bersubsidi dan nonsubsidi mendorong konsumen beralih ke pilihan yang lebih murah.

Baca juga: Daftar Tuntutan Demo Mahasiswa Hari Ini di Jakarta, Bertepatan 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Kekhawatiran masyarakat memicu antrean yang lebih panjang. Seiring menyebarnya kabar mengenai kelangkaan bahan bakar, para pengendara cenderung mengisi tangki kendaraan lebih cepat dari biasanya atau mencari bahan bakar di beberapa lokasi berbeda.

Video yang memperlihatkan antrean padat pun beredar di media sosial, disertai laporan mengenai pihak-pihak yang menjual kembali bahan bakar dengan harga jauh di atas tarif standar, dengan sasaran utama wisatawan asing.

Antara tanggal 14 hingga 17 Oktober 2026, Pertamina Patra Niaga menyalurkan sekitar 57,9 juta liter bahan bakar ke Bali melalui terminal BBM Sanggaran dan Manggis.

Untuk jalur laut dari Jawa ke Bali, armada pengangkut telah ditambah dari tiga menjadi tujuh kapal tanker. Selain itu, Pertamina telah menetapkan 52 SPBU untuk beroperasi selama 24 jam sehari dan menambah jumlah personel di lapangan.

Ke depannya, pemerintah dan Pertamina harus terus meningkatkan kesiapan armada serta memperkuat saluran distribusi guna menjamin pasokan bahan bakar yang stabil—terutama saat kondisi cuaca buruk atau tantangan geografis menghambat proses penyaluran.

Source:

Update Terbaru

RELATED POST