Batam Blackout Dikaitkan dengan Proyek Data Center, Benarkah? Pasokan Air Menurun jadi Permasalahan Baru
--
ASCOMAXX.com - Pemadaman listrik meluas melanda Batam, Bintan, dan Tanjungpinang di Kepulauan Riau mulai Senin (12 Oktober 2026) sekitar pukul 06.30 WIB.
Gangguan ini menghambat distribusi air bersih, memutus akses internet, dan menyebabkan kemacetan lalu lintas akibat lampu lalu lintas yang tidak berfungsi. Hingga Senin sore, penyebab pasti pemadaman belum diumumkan, dan upaya pemulihan jaringan masih terus dilakukan.
Yoga Perdana Sulastama, Manajer Komunikasi dan Humas PLN Batam, menyatakan bahwa tim teknis sedang menyelidiki sumber gangguan sembari memprioritaskan pemulihan aliran listrik. Sekitar 90 persen wilayah Batam dilaporkan terdampak, meskipun dugaan masalah pada gardu induk transmisi belum dipastikan sebagai penyebab utamanya.
"Untuk penyebab gangguan kami belum tahu, untuk saat ini kami prioritaskan recovery sistem dulu, dan penormalan listrik seluruh jaringan," ujar Yoga.
Warga merasakan dampak pemadaman ini saat mereka kesulitan bekerja, belajar, dan berkomunikasi akibat gangguan akses internet. Banyak orang mendatangi pusat perbelanjaan untuk mengisi daya ponsel dan laptop mereka; seperti yang diceritakan oleh pengguna @TS_Frima di X:
"Yang ada kerjaan atau tugas sampai duduk di lantai mal buka laptop, nyari colokan di tiang-tiang. Kafe penuh."
Pemadaman ini juga memicu kritik dari warganet terkait kesiapan infrastruktur Batam di tengah rencana pengembangan pusat data.
"Pemerintah Batam nih gimana sih woi udah air mati, listrik mati blackout pula. Gitu malah ngide bikin data center," tulis pengguna @EtherealYNGR, seraya mempertanyakan dampak potensial terhadap sektor industri, rumah sakit, dan keuangan.
Pengguna @TJhoras juga menyoroti kekhawatiran mengenai kesiapan fasilitas, dengan menulis,
"Nah gmn data center, udah siap belum di Batam? Kalo masih begini mending tunda dulu dah."
Apa itu Pusat Data Batam dan Mengapa Hal Ini Menuai Kritik? Pusat data adalah fasilitas yang menampung server dan sistem jaringan untuk menyimpan, memproses, dan mendistribusikan data digital.
Infrastruktur ini mendukung berbagai layanan, mulai dari komputasi awan dan aplikasi bisnis hingga kecerdasan buatan (AI), yang terutama membutuhkan pasokan listrik stabil, sistem pendingin, dan konektivitas jaringan yang andal.
Batam dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan pusat data karena lokasinya yang dekat dengan Singapura dan Johor (Malaysia), serta didukung oleh infrastruktur kabel bawah laut.
Pengembangan pusat data di Batam menjadi sorotan setelah sekitar 300 warga memprotes gangguan pasokan air perpipaan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan di kawasan Nongsa Digital Park pada hari Senin (5 Oktober 2026).
Baca juga: Video Callnya Viral, Ruben Onsu Pilih Laporkan Penyebaran ke Polisi Atas Dugaan Pencemaran Nama Baik
Andi Lalang, Ketua RT 03/RW 02 di Kelurahan Sambau, menyatakan bahwa pasokan air di wilayahnya—yang sebelumnya hanya mengalir beberapa jam sehari—telah terhenti total. Warga menduga adanya kaitan antara pembangunan pusat data dan masalah air tersebut, namun BP Batam membantah klaim itu.
Denny Tondano, Deputi Bidang Pengembangan Bisnis BP Batam, menjelaskan bahwa sumber air untuk pusat data dan kawasan permukiman berbeda.
Ia menyebutkan bahwa warga Nongsa bergantung pada Waduk Nongsa—yang permukaan airnya menurun saat musim kemarau—sedangkan kawasan pusat data memperoleh pasokan melalui jaringan khusus dari Waduk Duriangkang.