Duduk Perkara Turis Malaysia Boikot RM Pagi Sore Usai Dituduh Tak Bayar Rp900 Ribu, Manajemen Langsung Minta Maaf
--
Mendengar tuduhan tersebut, rombongan sempat panik dan langsung membongkar barang bawaan untuk mencari bukti pelunasan. Beruntung, struk fisik pembayaran menggunakan kartu kredit/debit masih tersimpan di dalam tas salah satu anggota rombongan. Riwayat transaksi perbankan digital mereka juga menunjukkan status sukses pada hari yang sama.
Pihak korban menjelaskan bahwa kesalahpahaman diduga dipicu karena mereka sempat melontarkan candaan internal dalam bahasa Melayu di meja makan mengenai siapa yang harus menanggung tagihan tersebut.
Staf restoran yang mendengar potongan percakapan itu langsung berasumsi negatif tanpa melakukan verifikasi mendalam pada log mesin EDC (Electronic Data Capture) kasir mereka sebelum menyebarkan rekaman CCTV ke pihak eksternal.
Dampak dari tindakan sepihak restoran yang terburu-buru memviralkan pelanggan memicu kemarahan komunitas pelancong Malaysia. Salah satu akun agen perjalanan besar, @tripadikberadik, secara terbuka menyerukan boikot massal terhadap RM Pagi Sore demi menjaga marwah warga Malaysia dan mengalihkan rekomendasi kuliner ke rumah makan lain yang dinilai lebih ramah dan teliti.
Netizen di media sosial F&B juga menyayangkan sistem manajemen keuangan restoran kelas premium yang dinilai kurang rapi dalam melakukan pelacakan transaksi digital harian. Banyak yang menegaskan bahwa tindakan gegabah memviralkan wajah konsumen tanpa konfirmasi perbankan terlebih dahulu dapat menghancurkan tingkat kepercayaan (trust) wisatawan internasional secara instan.
Menyadari kesalahan fatal tersebut, perwakilan manajemen RM Pagi Sore cabang PIK langsung mengunggah video dan surat pernyataan klarifikasi terbuka. Pihak restoran mengakui adanya miskomunikasi internal murni dan menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang dialami oleh Ibu Nur Amirah dan tim travel.
Melalui unggahan terbarunya, korban sendiri mengimbau netizen untuk tidak memperpanjang boikot karena pihak restoran sudah menunjukkan iktikad baik untuk meminta maaf. Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi para pelaku usaha kuliner agar lebih bijak dalam memanfaatkan media sosial serta menjadi pengingat penting bagi para pelancong untuk selalu menyimpan nota pembayaran fisik selama berlibur di luar negeri.