Link: Rental Mobil

The Family Business
Cerminan jiwa Dino Ferrari yang masih dikagumi hingga kini
March 31 2017

By ALDI PRIHADITAMA
classic cars The Family Business


Jika ada cerita mengenai hubungan ayah dan anak dalam sebuah perjalanan industri otomotif, maka hubungan antara Enzo Ferrari dengan Alfredino Ferrari menjadi cerita tragis yang sulit untuk dilupakan. Alfredino Ferrari merupakan buah hati dari pasangan Enzo Ferrari dan Laura Dominica Garello yang lahir pada 19 Januari 1932.

Enzo Ferrari pernah berjanji akan berhenti menjadi pembalap, jika ia dan istrinya memiliki anak laki-laki. Enzo Ferrari menepati janjinya setelah Dino Ferrari lahir, ia pun berhenti menjadi pembalap dari tim balap Alfa Romeo dan berkonsentrasi untuk membentuk tim balapnya sendiri, Scuderia Ferrari. Sejak kecil, Dino ‘dibentuk’ oleh Enzo Ferrari untuk menjadi penerusnya.

Setelah menyelesaikan sekolah teknik selama dua tahun, kesehatan fisik Dino Ferrari mulai terganggu. Namun hal itu tidak membuatnya untuk tetap terlibat di aktivitas perusahaan milik ayahnya. Bahkan di tahun 1955, Dino Ferrari sempat mengusulkan sebuah ide kepada Enzo Ferrari, untuk mengembangkan mesin V6 berkapasitas 1,5 liter dengan layout chassis mid-engine, yang nantinya dapat digunakan untuk kebutuhan balap Formula 2.

Enzo Ferrari setuju dengan ide putra tunggalnya itu dan mengajak Vittorio Jano untuk mengembangkan mesin V6 tersebut. Kesehatan Dino Ferrari yang semakin memburuk, membuatnya harus dirawat secara intensif di rumah sakit, namun antusiasme terhadap proyek mesin V6 ini sama sekali tidak surut, terlebih saat sedang berdiskusi bersama Vittorio Jano.

Sayangnya, Dino Ferrari menghembuskan nafas terakhirnya tanggal 30 Juni 1956 pada usia 24 tahun dan ia belum pernah melihat mesin yang diimpikannya. Enzo dan istrinya, Laura, sangat terpukul atas berpulangnya Dino Ferrari. Enzo Ferrari membutuhkan waktu yang cukup lama untuk ‘sembuh’ dari kenyataan tragis tersebut.

Sebagai penghormatan terhadap sosok putra semata wayangnya, Enzo Ferrari mulai menyematkan nama Dino untuk setiap mobil balap yang menggunakan mesin V6 sejak tahun 1957. Mesin V6 berspesifikasi balap tersebut tentu saja sulit untuk diaplikasikan untuk kegunaan ‘normal’. Oleh karenanya, harus ada sentuhan penyempurnaan agar mesin V6 itu dapat digunakan pada mobil jalan raya.

Di era ‘60an, semua model mobil Ferrari yang dipasarkan mengusung mesin V12. Enzo Ferrari ingin masuk ke segmen pasar mobil sport dengan nama baru, karena ia tidak ingin menurunkan eksklusivitas nama Ferrari yang telah ada. Maka lahirlah brand ‘Dino’ untuk menyuguhkan produk mobil sport mid-engine bermesin V6 asal Maranello.

Setelah melalui sederet pengembangan dan pembuatan prototipe, di tahun 1967 lahirlah Dino 206 GT. Layaknya seperti sosok Ferrari pada umumnya, Dino memiliki lekukan fisik yang sensual. Leonardo Fioravanti adalah chief designer di Pininfarina yang merancang bentuk bodinya. Sedangkan bodi alumuniumnya dibuat oleh Scaglietti.

Dino 206 GT ini menggunakan mesin V6 2,0 liter dan hanya ‘menghasilkan’ tenaga 180 hp. Meski dianggap tidak sekencang Ferrari bermesin V12, mobil ini memiliki keunggulan tersendiri, yaitu chassis yang seimbang, pengendalian yang lincah, dan respon setir yang lebih akurat. Setelah diproduksi tak kurang dari 150 unit, hadir evolusi dari Dino 206 GT di tahun 1969, yakni Dino 246 GT.

Secara penampilan, perbedaan Dino 246 GT dengan Dino 206 GT terletak pada bodi yang sedikit dipanjangkan, jarak wheelbase bertambah sekitar 60 mm. Sehingga panjang bodi Dino 246 GT menjadi 2340 mm, sedangkan Dino 206 GT ialah 2280 mm. Perbedaan visual lainnya ialah bentuk tutup pengisian bahan bakar dan diameter ujung knalpot yang lebih besar.

Namun yang paling berbeda adalah mesin V6 yang kini kapasitasnya menjadi 2,4 liter dan menghasilkan tenaga 195 hp. Blok mesin Dino 206 GT terdahulu menggunakan material alumunium, lain halnya dengan blok mesin Dino 246 GT, karena kini menggunakan material baja.

Dino 246 GT menggunakan material besi konvensional untuk panel bodinya. Langkah ini juga untuk menekan biaya produksi dan menghasilkan kualitas pembuatan yang lebih baik dibandingkan dengan material alumunium pada Dino 206 GT.

Pada Geneva Motor Show 1972, diperkenalkan Dino 246 GTS dengan fitur atap yang dapat dilepas. Selain atap yang dapat dilepas itu, perbedaan lain dengan Dino 246 GT adalah absennya kaca samping belakang, yang digantikan oleh panel dengan lubang udara.

Dalam rentang waktu sejak tahun 1969 hingga 1974, jumlah Dino 246 GT yang diproduksi adalah 2487 unit, sedangkan Dino 246 GTS berhasil dibuat sebanyak 1274 unit. Sehingga total produksinya ialah 3761 unit. Jumlah tersebut merupakan pemecah rekor produksi bagi pabrikan Maranello saat itu.

Dino 206 GT, maupun 246 GT dan 246 GTS, mungkin pernah dipandang sebelah mata oleh para maniak produk Ferrari. Namun anggapan itu sirna setelah mereka merasakan langsung pengalaman berkendara bersama Dino tipe apa pun. Baik Dino 206 GT, 246 GT, dan 246 GTS, memang tidak terlahir dengan nama Ferrari. Namun, sepertinya tidak ada satu pun car-enthusiast di dunia yang keberatan jika mobil ini dianggap sebagai Ferrari sejati.



Advertising


Advertising


 
©Ascomaxx 2015. All rightsreserve

Berita Otomotif |

Mobil Sport |

Mobil Klasik