Link: Rental Mobil

Tanda Tanya Masa Depan Komponen Elektrik
Mobil klasik bisa hanya menjadi seonggok "patung"
September 26 2016

By ASCOMAXX
classic cars Tanda Tanya Masa Depan Komponen Elektrik


Mobil klasik selalu menarik untuk diperhatikan. Biasanya orang langsung menelisik bentuknya, orisinalitasnya, serta sejarah di baliknya. Namun, tidak banyak orang yang langsung mengamati bagian-bagian yang tersembunyi di dalam mobil klasik itu. Misalnya, detail mesin, chassis, dan komponen elektroniknya.

Menariknya, belakangan ini menyeruak isu yang otentik tentang mobil klasik, yakni bagaimana sebuah mobil klasik bisa terus aktif (mesin hidup dan berjalan) dengan komponen digital yang bisa diperbaharui.

FIVA (Fédération Internationale des Véhicules Anciens) atau badan dunia yang menaungi upaya pelestarian warisan budaya kendaraan (motoring heritage) baru-baru ini merilis isu terkait electronic control unit (ECU) pada mobil-mobil klasik. FIVA adalah lembaga internasional yang memproteksi, mempromosikan, dan melestarikan warisan budaya dunia bidang automotive. FIVA memiliki perwakilan di 64 negara dan menjalin komunikasi dengan sekitar 1.500.000 kolektor mobil klasik.

Menurut FIVA, banyak mobil klasik modern yang dibuat pada dekade ’80-an menghadapi masa depan yang tidak pasti, kecuali dunia automotive bisa menjaga teknologi digitalnya (ECU) dan aspek lain di sekitarnya. Demikian pula dengan mobil premium masa kini yang kelak menjadi klasik.

FIVA mengangut filosofi yang ideal, yakni sebuah mobil klasik seyogyanya mampu aktif dan berjalan, bukan hanya seonggok mobil yang hanya bisa dipandang.

Tahun ini FIVA yang genap berusia 50 tahun, mendapat dukungan dari UNESCO (badan Peserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan kebudayaan), untuk mencanangkan tahun 2016 sebagai ‘World Motoring Heritage Year’.

FIVA melempar isu kepada publik tentang pentingnya menjaga komponen digital di dalam mobil klasik sebelum semuanya terlambat. Bila persoalan “warisan digital” pada mobil klasik modern tidak segera diselesaikan, dikhawatirkan kelak sudah semakin jauh dari solusi idealnya. FIVA bahkan menyebut perlunya keterlibatan manufaktur mobil, car enthusiast, klub mobil, dan organisasi permobilan (FIVA) untuk menyelesaikan masalah ini.

Hal ini terkait dengan ketersediaan stock komponen ECU dan elektronis lainnya pada mobil klasik modern. Stephan Joest, konsutan ahli komponen elektronik mobil, yang juga presiden Amicale Citroën Internationale, sebuah jaringan yang mencakup 1.000 lebih klub mobil Citroën di seluruh dunia, mengatakan kepada media, “Kita sekarang masih punya kesempatan untuk membuat persediaan komponen elektronisnya. Kecuali kita tidak peduli dan membiarkan diri kita suatu saat tidak bisa lagi mengganti ECU pada mobil klasik dari era ’80-an. Padahal, mobil yang diproduksi di era itu menempatkan ECU sebagai pengontrol segalanya, mulai engine management, air conditioning, hingga fitur safety. Tanpa ECU yang berfungsi, maka mobil itu sama saja mati”.

“Penuaan komponen digital terus terjadi, meski mobil tidak digunakan. Penelitian kami memperlihatkan bahwa sekitar 50% dari ECU mobil-mobil yang berumur 40 tahun ke atas sudah tidak berfungsi. Masalahnya, semakin tua komponen elektronis, semakin sulit menemukan penggantinya yang masih bisa befungsi,” imbuh Joest, sambil menegaskan bahwa problem ini tidak terjadi pada satu-dua manufaktur, melainkan pada keseluruhan industri.

Bosch –produsen berbagai komponen elektronis—termasuk perusahaan yang peduli masalah ini. Pihak Bosch –menurut FIVA— mengaku akan berusaha mendorong manufaktur mobil untuk ikut memperhatikan persoalan ini. Bosch adalah penyuplai komponen elektronis untuk banyak manufaktur mobil saat ini. Sejauh ini, pemilik mobil tidak bisa membeli komponen elektronis langsung kepada Bosch, melainkan via manufaktur mobil.

Kita ketahui bahwa mobil premium yang diproduksi saat ini –dan di masa depan menjadi mobil klasik bernilai tinggi— memiliki 60-100 ECU yang terpisah, mengontrol berbagai aspek mobil, bahkan kompleksitas ECU itu bertambah setiap tahunnya, terkait perkembangan fitur dan teknologi mobil premium.

Kita pun boleh kembali bertanya kepada diri sendiri, apakah akan membiarkan mobil klasik di masa depan adalah benda pajangan yang tidak bisa dikendarai? Menurut filosofi FIVA dan juga di-endrose oleh UNESCO, mobil klasik adalah mobil yang sesuai fungsinya, yakni benda budaya (seni dan teknologi) serta alat transportasi (bisa dikendarai). Mobil berbeda dengan warisan budaya yang bersifat patung (sculpture).

(Artikel ini diambil dari rubrik Stanley’s Thrills di majalah Ascomaxx)

Ferrari 250 GTO



Advertising


Advertising


 
©Ascomaxx 2015. All rightsreserve

Berita Otomotif |

Mobil Sport |

Mobil Klasik