Link: Rental Mobil

KOMPARASI: Lamborghini Aventador VS Espada
Denyut Nadi Lamborghini
November 25 2016

By RIZKI SATRIA
classic carsexotic cars KOMPARASI: Lamborghini Aventador VS Espada


Ferruccio Lamborghini, sosok penting yang ada di balik perusahaan ini sangat menyukai berbagai hal yang terkait dengan mesin.

Setelah Perang Dunia kedua (PD II), Ferruccio Lamborghini yang sempat bergabung dengan militer Italia ini termasuk orang yang gemar berimprovisasi dalam memperbaiki mesin. Dan saat kembali ke kota asalnya di dekat Modena, ia pun membuka sebuah bengkel kecil untuk memperbaiki mobil atau sepeda motor.

Seiring dengan perjalanan bisnisnya, Ferruccio Lamborghini menyadari bahwa di lingkungan rumahnya banyak orang yang membutuhkan traktor untuk kegiatan pertanian. Ia bertekad untuk mampu membuat sebuah traktor dalam waktu satu bulan, dengan menggunakan sisa komponen dari kendaraan militer yang sudah tidak terpakai.

Peluang untuk terjun di bidang alat pertanian, menjadi terbuka luas, karena keadaan ekonomi Italia mulai membaik dan banyak yang membutuhkan traktor berkualitas seperti buatan Ferruccio Lamborghini itu.

Bisnis traktornya menuai banyak hasil dan di tahun 1960, Ferruccio Lamborghini melakukan ekspansi ke bisnis pemanas dan pendingin ruangan untuk kebutuhan gedung. Keadaan finansial pribadi Ferruccio Lamborghini yang kini sudah berada di level atas, memungkinkan dirinya mulai melirik mobil berperforma tinggi.

Ia pun mulai membeli beberapa produk Maserati, OSCA, bahkan Ferrari. Namun sayangnya mobil-mobil yang ia miliki tersebut selalu mengecewakan, terutama di bagian mesin dan pelayanan purnajual.

Ada cerita unik yang dialami oleh Ferruccio Lamborghini, saat ia frustrasi dengan kopling Ferrari 250 GT miliknya. Ia pun berkunjung ke kantor pusat Ferrari guna berjumpa dengan Enzo Ferrari.

Sayangnya bos Ferrari tersebut tidak ada waktu untuk mendengar keluhan dan menganggap remeh pelaku bisnis traktor ini. Saat itu juga, Ferruccio Lamborghini bertekad untuk menciptakan mesin yang jauh lebih hebat dari mesin Ferrari V12.

Ferruccio Lamborghini merasa bahwa mesin Ferrari V12 yang menggunakan cylinder head model SOHC (Single Overhead Camshaft) sudah berteknologi usang. Oleh karena itu ia ingin memiliki mesin V12 dengan cylinder head DOHC (Dual Overhead Camshaft.

Untuk mewujudkan cita-citanya, Ferruccio Lamborghini menggandeng Giotto Bizzarrini, seorang project leader untuk desain Ferrari 250 GTO. Ferruccio Lamborghini akan mengganjar Giotto Bizzarrini dengan bonus ekstra untuk setiap tenaga kuda (hp) yang dihasilkan di atas performa mesin Ferrari V12 3.0 liter.

Selanjutnya Giam Paolo Dallara pun diajak bergabung, ia seorang engineer yang pernah bekerja di Ferrari dan Maserati.

Giotto Bizzarrini dan Giam Paolo Dallara adalah duet yang hebat dalam merancang mesin berferforma tinggi, namun Ferruccio Lamborghini tak mau tanggung-tanggung. Ia juga merekrut Bob Wallace dan Paolo Stanzani untuk turut menelurkan mesin Lamborghini V12.

Tanggal 15 Mei 1963, untuk pertama kalinya mesin Lamborghini V12 berkapasitas 3.5 liter akhirnya hidup dan meraung di salah sudut ruangan pabrik pembuatan traktor.

Para engineer melakukan kalkulasi tenaga yang dihasilkan oleh mesin tersebut, yakni 360 hp pada putaran 8000 rpm dan 370 hp pada 9000 rpm. Bizzarrini yakin jika mesin tersebut menggunakan karburator yang berukuran lebih besar, maka tenaganya bisa mencapai 400 hp di putaran 11.000 rpm.

Namun, Ferruccio Lamborghini tidak berambisi untuk memiliki mesin balap yang liar. Ia ‘hanya’ menginginkan mesin yang akan menjadi jantung untuk sebuah ‘ultimate road car’.

Ferruccio Lamborghini mendambakan sebuah mobil grand tourer (GT) berperforma tinggi yang selalu dapat diandalkan setiap saat dan memiliki rentang periode servis besar hingga 60 ribu km.

Tanggal 3 Oktober 1963, mesin berkode L350 rancangan Bizzarrini yang telah dikurangi performanya pun diuji. Tenaganya yang dihasilkan kini ‘hanya’ 270 hp, namun mesin ini dirasa lebih nyaman untuk pengunaan sehari-hari.

Bulan Maret 1964 di Geneva Motor Show, tampil mobil GT pertama dari pabrik Sant’Agata Bolognese itu, yakni Lamborghini 350GT. Respon dari publik pun cukup baik, sehingga Ferruccio Lamborghini memutuskan untuk segera memproduksi mobil tersebut di bulan Mei 1964.

Lalu bagaimana dengan perjalanan hidup mesin Lamborghini V12? Semenjak lahirnya 350GT, Lamborghini seolah enggan untuk meninggalkan tradisi penggunaan mesin V12 untuk setiap produknya.

Setelah 350GT, dilanjutkan dengan 400GT, Miura, Islero, Espada, Jarama, hingga Countach dan LM002.

Beberapa produk tersebut menggunakan mesin Lamborghini V12 yang berbasis rancangan Bizzarrini dan timnya. Karakternya tidak terlalu berubah dari tahun ke tahun meski mengalami penyempurnaan.

Tetap bertenaga dan beringas, namun tidak membuat pengemudi mobil Lamborghini itu merasa tersiksa atas performa yang dihasilkan.

Mungkin sebagian dari Anda akan merasa heran, mengapa dalam artikel ini terdapat satu unit Lamborghini Espada Series III yang cantik dan elegan, bersanding dengan sebuah Lamborghini Aventador LP700-4 yang futuristis dan intimidatif. Jawabannya berada di balik kap mesinnya. Ya, keduanya menggunakan mesin V12.

Lamborghini Espada

Hampir semua orang mengerti kalau setiap produk yang dihasilkan oleh Lamborghini selalu sukses memacu adrenalin. Apalagi kalau bukan karena suara mesin V12 buatan Lamborghini yang legendaris itu. Namun, jika melihat beberapa dekade ke belakang, pabrikan asal Italia ini pernah memproduksi mobil-mobil yang tergolong ‘jinak’, salah satunya ialah Lamborghini Espada.

Karena tidak temperamental seperti Lamborghini pada umumnya, maka mobil ini dapat digunakan untuk untuk perjalanan jarak jauh dengan rasa nyaman. Lamborghini Espada adalah buah rancangan dari rumah desain Carrozzeria Bertone. Marcello Gandini, seorang desainer muda yang bertalenta tinggi, pernah bekerja dengan seorang insinyur Lamborghini, Giampaolo Dallara, saat dalam proyek Lamborghini Miura.

Gandini kemudian mengasah kepiawaian desainnya melalui proyek mobil konsep Bertone Marzal yang menjadi bentuk radikal dari sosok Grand Tourer (GT) 4 penumpang dari Lamborghini. Namun, ada mobil konsep lainnya yang turut mempengaruhi desain bodi prototipe Lamborghini tersebut, yaitu Bertone Pirana.

Jika Bertone Marzal menggunakan chassis Miura yang dipanjangkan, dengan pintu gullwing, dan mengusung mesin Lamborghini V6 berkapasitas 2.0 liter (atau setengah dari mesin Lamborghini V12 4.0 liter), maka Bertone Pirana mengambil basis dari Jaguar E-type.

Namun, Feruccio Lamborghini menekankan bahwa GT ini harus menggunakan mesin V12 yang diposisikan di bagian depan, pintu model konvensional, dan jok depan yang dapat dilipat.

Gandini segera melakukan revisi desain dan langsung disukai oleh Ferrucio Lamborghini. Revisi desain Gandini tersebut akhirnya dinamakan Espada. Kata Espada berasal dari bahasa Portugis dan Spanyol yang berarti pisau milik matador untuk menghabisi banteng aduan.

Lamborghini Espada diperkenalkan secara resmi pada ajang Geneva Motor Show tahun 1968. Mobil ini merupakan sebuah GT sejati dengan konfigurasi tempat duduk 2+2. Mesin yang digunakan adalah V12 DOHC 4.0 liter dengan tenaga maksimum 325 hp, sehingga mampu berakselerasi dari 0-100 km/jam dalam waktu 8 detik dan membawa Espada hingga kecepatan 250 km/jam tanpa bersusah payah.

Meski mesin yang digunakan sama dengan Miura, namun Espada ditujukan sebagai mobil dengan karakter high-speed cruising. Sehingga berkendara bersama Espada dapat dinikmati oleh 4 penumpang, tanpa harus berkompromi dengan kenyamanan layaknya sebuah mobil saloon mewah.

Dengan panjang bodi 4,74 m, Lamborghini Espada termasuk dalam kategori ukuran normal. Tapi karena memiliki lebar bodi mencapai 1,86 m dan tinggi bodi hanya 1,18 m, maka seolah Espada terlihat panjang untuk sebuah GT.

Sepanjang tahun 1968 hingga 1978, terdapat 3 generasi Lamborghini Espada yang diproduksi di pabrik Sant’Agata Bolognese. Yang pertama adalah Series I yang diproduksi pada tahun 1968 hingga 1969.

Espada seri pertama memiliki bentuk panel instrumen dashboard berbentuk hexagonal seperti pada Bertone Marzal, panel bergaris vertikal pada bagian bawah kaca belakang, dan velg dengan centre-lock milik Lamborghini Miura.

Generasi berikutnya ialah Series II yang dipasarkan pada penghujung tahun 1969 sampai 1972. Dashboard unik dari Series I sudah digantikan dengan model konvensional, saluran ventilasi tambahan untuk penumpang belakang, velg dengan 5 baut pengunci, rem cakram berventilasi pada keempat roda, dan terdapat opsi fitur power steering.

Untuk sektor dapur pacu, Lamborghini meningkatkan tenaga maksimalnya dari 325 hp menjadi 350 hp.

Lamborghini Espada yang ada di depan mata Anda ini adalah buatan tahun 1974 atau merupakan salah satu dari Series III yang beredar sejak akhir tahun 1972 hingga 1978.

Meski perbedaan fisik dari tiap generasi hanya terdapat pada detail kecil dan tergolong minor, sedangkan bagian interior yang memiliki perbedaan cukup terlihat, namun banyak anggapan bahwa Series III adalah generasi Espada yang terbaik.

Pada mesin Series III, tenaga mesinnya ditingkatkan kembali hingga menjadi 365 hp, meski kapasitas tetap sama dengan dua generasi sebelumnya.

Hingga akhir produksinya di tahun 1978, Espada sempat menyandang predikat sebagai produk Lamborghini tersukses di era tersebut, dengan total jumlah mobil yang terjual lebih dari 1.200 unit selama 10 tahun. Kepraktisan dan kenyamanan yang dimiliki oleh Espada bisa dikatakan turut berkontribusi dalam menghasilkan prestasi penjualan tersebut.

Lamborghini Aventador

Tradisi mesin V12 Lamborghini diteruskan oleh Lamborghini Aventador. Menariknya, mesin V12 yang digunakan oleh Aventador masih memiliki banyak kesamaan dengan mesin V12 pertama Lamborghini hasil karya Giotto Bizzarrini. Mesin barunya ini mengikuti pola sudut 60 derajat V12 dengan dual over head camshaft (DOHC).

Lamborghini juga masih kukuh memakai mesin berkapasitas besar tanpa bantuan induksi turbocharger seperti yang banyak dilakukan oleh produsen mobil lainnya.

Inilah yang membuat DNA Lamborghini begitu terasa di setiap mobil bermesin V12 yang keluar dari pabrik Sant’Agata.

Tak dipungkiri memang sejak Lamborghini resmi dimiliki oleh VW Group, banyak sentuhan Jerman yang dialami oleh mesin V12 Lamborghini ini.

Tetapi menurut kami, semua itu sah saja dilakukan guna mengikuti dengan perkembangan teknologi sejauh tidak mengurangi tradisi ‘old school’ mesin yang legendaris itu.

Sentuhan Jerman membuat mesin V12 Lamborghini semakin membesar menjadi berukuran 6,5 liter untuk Aventador.

Mesin ini telah meninggalkan karburator dan menggantinya dengan sistem injeksi, merevisi sistem lubrikasi, hingga material blok mesin, piston dan komponen-komponen di dalamnya untuk mereduksi bobot mesinnya.

Konsumsi bahan bakar memang bukan menjadi perhatian utama para pemilik Lamborghini, tetapi tidak bagi para insinyur Lamborghini di Bologna, Italia.

Beberapa fitur modern milik VW Group juga diaplikasikan pada mesin V12 Lamborghini Aventador. Misalnya, kini Aventador memiliki transmisi dengan beberapa mode berkendara yaitu, Strada (road), Sport, dan Corsa (race).

Mode berkendara Strada diklaim akan membuat Aventador beroperasi secara lebih santun dan lebih ramah lingkungan.

Pada mode ini Aventador juga dapat mengaktifkan fitur start-stop system yang akan mematikan dan menghidupkan mesin secara otomatis saat menghadapi kemacetan lalu-lintas.

Lalu, sentuhan VW lainnya adalah fitur cylinder deactivation system yang akan menonaktifkan 6 dari 12-silinder mesin V12-nya saat tidak dibutuhkan.

Secara sementara mesin V12 Aventador akan beroperasi layaknya mesin 6-silinder segaris untuk menghemat bahan bakar sekitar 20%.

Selain itu Aventador juga dibekali dengan segudang fitur modern lainnya seperti panel instrumen digital, 7-inch multimedia system dengan navigasi, konektivitas bluetooth, iPod/iPhone, fitur penunjang keselamatan berkendara seperti rem ABS, EBD, ASR, ESC, hill start assist, sampai spoiler belakang yang dapat menyembul secara otomatis pada kecepatan tertentu.

Menariknya, Aventador masih menggunakan Independent Shifting Rod (ISR) transmisi otomatis single clutch 7-speed.

Terbukti, meski telah berkompromi terhadap modernisasi, namun mesin V12 6,5 liter Aventador justru semakin bertambah ‘beringas’.

Mesinnya ini dapat menghasilkan output 700 hp dengan torsi puncak hingga 690 Nm. Hasilnya Lamborghini Aventador mampu melesat dari posisi diam sampai menyentuh 100 kpj hanya dalam 2,9 detik. Supercar berpenggerak 4-roda ini dapat terus melaju hingga kecepatan maksimum 350 kpj.

Selepas lama duduk di depan kemudi Espada, lalu kemudian berpindah kedalam Aventador, empat dekade yang memisahkan mereka cukup untuk membuat kami merasa seperti telah memasuki kapsul waktu.

Desain kabin bagian pengemudi Aventador yang dibuat menyerupai kokpit pesawat jet tempur langsung membuat Lamborghini di era baru terasa begitu asing bagi penggemar supercar klasik Lamborghini.

Terlalu banyak sentuhan detail dan ornamen ekstrinsik seperti misalnya tombol start-stop yang tersembunyi dibalik panel berwarna merah seperti layaknya tombol pelontar misil pada jet tempur.

Ini dibuat tujuannya untuk menambah ketegangan pengemudinya saat sedang benar-benar menikmati kemudi Aventador. Tak percaya? Lamborghini sampai menyediakan tuas untuk membuka jendela kecil tepat di belakang pengemudi, untuk membiarkan raungan mesin dan knalpotnya menambah syahdu suasana saat berkendara di dalam Aventador.

Jelas sangat berbeda dengan nuansa nyaman yang dihadirkan oleh Gran Turismo klasik Lamborghini dari masa lalu, Espada. Meski begitu, kami menemukan sejumlah kesamaan yang masih dipertahankan oleh Lamborghini.

Door handle bagian dalam Lamborghini yang ikonik itu masih dipertahankan. Gestur tangan yang dihasilkan dari mekanisme yang unik untuk membuka pintu dari dalam ini bagi kami membuat pelakunya terasa lebih beretika dan berkelas. Sentuhan yang tak banyak dimiliki oleh produsen mobil manapun hingga saat ini.



Advertising


Advertising


 
©Ascomaxx 2015. All rightsreserve

Berita Otomotif |

Mobil Sport |

Mobil Klasik