Link: Rental Mobil

Begini Cara Berboncengan Motor yang Benar
Dari soal komunikasi hingga teknik berboncengan
April 12 2017

By
premium cars Begini Cara Berboncengan Motor yang Benar


Berkendara dengan motor besar, sedang, atau kecil seringkali dibarengi pendamping. Baik itu pasangan maupun rekan. Namun pendamping atau pembonceng ternyata berpotensi membawa bahaya.

Bahaya itu muncul bila si pembonceng tidak memahami teknik membonceng yang baik. Berikut ini bimbingan bagi para pengemudi, serta pasangan atau rekan yang ingin berboncengan.

1. Bangun komunikasi yang baik dengan pengemudi. Jangan ragu untuk berbicara kencang agar terdengar oleh pengemudi. Bisa juga gunakan bahasa tubuh seperti gerakan tangan atau tepukan ke tubuh pengemudi.

Setiap saat ada rasa kurang nyaman, langsung komunikasikan dengan pengemudi, jangan ditunda. Pengemudi pun harus menyadari pentingnya komunikasi seperti ini.

2. Dari sudut pandang pengemudi, memboncengi katakanlah penumpang seberat 50 kg sudah cukup mengubah kondisi motor. Misalnya, jarak pengereman bertambah, akselerasi berkurang kecekatannya, dan steering lebih lambat responsnya.

Lebih dari itu, penumpang menekan suspensi lebih dalam, sehingga travel suspensi memendek dan kemampuan motor menikung berkurang.

Tak cukup sampai di situ, penumpang yang duduk di posisi jok tinggi tepat di atas as roda—lebih buruk lagi bila di belakang as roda—maka akan sangat mengganggu pengendalian motor.

Hal ini bisa diperparah bila penumpang tidak bergerak searah dan seirama dengan gerakan pengemudi. Pengendalian motor bisa fatal.

Kembali ke uraian pertama, komunikasi pengemudi dan penumpang harus benar-benar oke. Bahkan, untuk perjalanan yang jauh dan melelahkan (touring panjang), pengemudi dan penumpang sebaiknya melakukan briefing dan latihan, sehingga mengetahui keinginan dan kebiasaan masing-masing.

3. Pengemudi perlu menyesuaikan caranya berkendara. Misalnya, menyiapkan jarak pengereman yang lebih panjang, tidak menghindari lubang dengan manuver (sekali lagi siapkan jarak perlambatan yang cukup), dan melakukan akselerasi ketika kondisi benar-benar aman.

4. Diskusikan posisi duduk terenak dan ternyaman bagi penumpang. Awalnya soal pijakan kaki, kemudian jarak duduk penumpang belakang dengan tubuh pengemudi. Tingkat kecondongan penumpang pun perlu dibicarakan agar kedua belah pihak merasa nyaman.

5. Penumpang perlu diberi informasi bahwa di saat motor berbelok (menikung), tubuh penumpang harus mengikuti kemiringan motor tanpa dilebihkan atau dikurangi. Penumpang dan pengemudi “menari” seirama dengan gerakan motor. Bila perlu, berlatihlah terlebih dahulu bagi pasangan yang baru pertama kali akan melakukan touring.

6. Gunakan reading gear yang sama antara pengemudi dan penumpang. Seperti helm, sepatu, kaca mata, pelindung lutut, pelindung siku, sarung tangan, dan sebagainya. Kesamaan ini akan membantu identitas Anda di dalam situasi darurat.

7. Tidak disarankan untuk membuat ikatan antara pengemudi dan penumpang dengan tali atau apa pun. Hal ini hanya akan menghasilkan ketidaknyamanan. Selain itu, bila terjatuh, masing-masing pihak akan kesukitan untuk melakukan gerakan jatuh yang benar.

8. Penumpang sebaiknya memegang pinggang pengemudi, dan bukan pundak atau bagian lain. Pinggang adalah bagian yang paling toleran dibanding pundak atau lengan yang berfungsi vital dalam pengendalian motor.



Advertising


Advertising


 
©Ascomaxx 2015. All rightsreserve

Berita Otomotif |

Mobil Sport |

Mobil Klasik